Breaking News!

Tim Peduli Sulteng Prabu Express Santuni Korban Gempa Jemaat HKBP Palu

Palu, Majalahspektrum.com – TIM Peduli Sulteng Prabu Express Grup dan GMBI GBI Shalom mengunjungi korban gempa warga jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ressort Palu, Jl. Gereja No.36, Tatura Utara, Palu, Kamis (25/10/2018).

Rombongan yang dipimpin Naimi Simanjuntak tersebut datang memberikan bantuan logistik dan peralatan yang dibutuhkan korban bencana seperti; Baju 6 lusin untuk anak-anak dan orang dewasa, daster untuk ibu-ibu, sarung, kelambu, susu anak-anak dan bayi, tenda dum, Alkitab, snack dan uang sebesar Rp. 3.000.000 untuk membeli peralatan mandi (Sabun, Sikat dan pasta gigi).

“Kami turut berduka dan bersimpati kepada bapak-ibu yang berduka karena gempa. Kedatangan kami ke sini ingin berbagi kasih karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kami,” kata isteri Bendahara Umum DPA GBI Pusat, Jeffry Fam ini.

Pendeta Ressort HKBP Palu, Pdt. Timbul Simorangkir mengutarakan, ada 5 KK jematt HKBP yang menjadi korban tewas akibat gempa Sulteng, salah satunya St. Tobing. Di halaman gereja dibangun posko pengungsian yang dihuni 15-an KK warga jemaat dan warga lainnya.

“Itu ada boru-nya (Anak perempuan) St,Tobing sedang ditemani kerabatnya karena syok berat. Ada 5 KK jemaat kami yang meninggal dunia saat gempa di Balaroa,” kata Timbul.

Diceritakan Timbul, St,Tobing meninggal dunia bersama isteri (br.Tambunan), 1 anak dan 1 keponakan tertimbun tanah di Balaroa, sedang 1 anaknya meninggal korban tsunami saat acara karnaval budaya di pantai. “Jadi keluarga ini tinggal borunya yang hidup, selamat dari gempa kemarin,” tuturnya.

Sementara itu, Martina Tobing, putri Sintua (Majelis) Tobing saat diminta menceritakan kejadian saat gempa yang menewaskan ayah, ibu, adik dan sepupunya itu tak sanggup berkata-kata hanya menangis sesunggukan. “Saya ngak kuat menceritakannya. Saya selamat karena sedang tidak ada di rumah,” katanya singkat lirih.

Dilanjutkan Timbul, anggota jemaatnya yang lain, yang menjadi korban meninggal dunia akibat gempa tinggal di Petobo akibat tertimbun banjir lumpur setinggi 5 meter. “Hampir sulit selamat kalau tinggal di Petobo dan Balaroa karena bumi berputar, manusia seperti ditelan bumi, berputar-putar, tanah buka tutup, mirip seperti blender,” ujarnya.

Usai menyambangi posko pengungsian di areal gereja HKBP, Tim Prabu Express melanjutkan pelawatan korban gempa ke daerah Jono Oge. Suatu desa yang banyak dihuni umat kristiani dan ditengarai sebagai pusat dari gempa Likuefaksi. (AGS)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*