Melalui Rakernas PERWAMKI, GKSI Ajak Wartawan Kristiani Berperan Bagi Gereja dan NKRI

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Bandung, majalahspektrum.com – MELALUI Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2019 Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI), Ketua Majelis Tinggi Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Willem Frans Ansanay, S.H, M.Th berharap wartawan kristiani dapat berperan maksimal bagi kehidupan gereja, bangsa dan Negara, khususnya dalam mempertahankan dan memperkuat NKRI.

“Kesempatan ini (Rakernas PERWAMKI) menjadi momen yang sangat pas untuk saling mendukung dalam memberikan testimoni yang baik, benar sesuai dasar kebenaran yang dikehendaki Tuhan bagikehidupan Indonesia, secara khusus menyangkut keutuhan NKRI,” kata Frans di pembukaan Rakernas PERWAMKI dan Pelantikan Pengurus DPD Jabar dan DKI Jakarta melalui surat testimoninya di aula kampus ITHB, Bandung, Jawa Barat, Senin (22/7/2019).

Menurut Frans, jurnalis Kristen bias berperan  menjadi ujung tombak pembawa berita yang baik dan benar di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, sesuai dengan Fungsi dan Peran jurnalis, sebagai; Authenticator ,yakni konsumen memerlukan wartawan yang bias memeriksa keautentikan suatu informasi, Sense maker yakni menerangkan apakah suatu informasi itu masuk akal atau tidak.

“Sebagai Investigator yakni wartawan harus terus mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan, sebagai Witness bearer yakni kejadian-kejadian tertentu harus diteliti dan dipantau kembali dan dapa tbekerjasama dengan reporter warga,” harapnya.

Selanjutnya, kata Frans, wartawan kristiani dapat melakukan Empowerer yakni saling melakukan pemberdayaan antara wartawan dan warga untuk menghasilkan dialog yang terus-menerus pada keduanya, lalu Smart aggregator yakni wartawan cerdas harus berbagi sumber berita yang bias diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, bukan hanya karya wartawan itu sendiri.

“Ada Forum organizer yakni organisasi berita, baik lama dan baru, dapat berfungsi sebagai alun-alun di mana warga bias memantau suara dari semua pihak, tak hanya kelompok mereka sendiri. Wartawan kristiani juga bias menjadi Role model, yakni tak hanya bagaimana karya dan bagaimana cara wartawan menghasilkan karya ersebut, namun juga tingkah laku wartawan masuk dalam ranah public untuk dijadikan contoh teladan,” sambungnya.

Dari 8 point tersebut, kata Frans, bias menjadi gambaran yang dikehendaki Tuhan bagi setiap wartawan agar professional dalam bekerja, memiliki aturan dan etik professional dalam pekerjaan, sehingga menjadi saksi bagi sesame melalui setiap berita yang disampaikan.

“Yang harus direnungkan secara pribadi, apakah Saya terlatih menjadi jurnalis dan saya juga terlatih menjadi pengikut Kristen sejati?. Apakah ini dua hal yang bertolakbelakang?, Atau dapatkah seorang jurnalis menjadi Kristen yang baik. Sebaliknya, dapatkah seorang Kristen sejati menjadi jurnalis yang baik? Di Indonesia ada banyakjurnalis Kristen, itu faktanya. Tapi seberapa banyak kekristenan dan terutama Injil mempengaruhi mereka bekerja di dunia jurnalistik umum,” jelasnya.

Baca Juga; ( GKSI Apresiasi SAA Ke-35 PGI Sebagai Wujud Kepedulian Gereja Bagi NKRI )

Di sisi lain, sambung dia, ada juga kelompok jurnalis dari media-media Kristen yang sudah betul-betul dipengaruhi Injil dalam pekerjaannya. Jika para wartawan Kristen memahami status dan tanggungjawabnya sebagai pengikut Kristus, maka dalam dirinya ada kesadaran memiliki integritas diri yang tinggi sesuai nilai-nilai kristiani.

“Dengan demikian, maka Seorang jurnalisme sejatinya tidak berpihak. Tapi amanat bagi pers adalah untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan, seperti termaktub dalam pasal 6 UU Pers. Begitulah juga panggilan sebagai orang Kristen untuk senantiasa berpihak kepada kebenaran dan berusaha menciptakan perdamaian, bukan menimbulkan sensasi dan kontroversi. Tuhan Yesus berkata berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Hal inilah yang sangat dibutuhkan bagi keutuhan NKRI,” tegasnya.

Menurut FRans, hidup yang berpadanan dengan Injil amat penting. Sebab, sebagai seorang jurnalis Kristen, maka ia harus memiliki kesaksian hidup sesuai dengan apa yang diapercayai, sesuai dengan imannya dan tidak hanya menjadi jurnalis Kristen KTP.

“Sebab sekelilingnya akan melihat dan menghakimi bagaimana dia hidup. Kesaksian hidup yang benar akan sangat berdampak, tak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Perludi ketahui juga bahwa setiap kita harus memiliki hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus, karena kita adalah Gereja Tuhan yakni suatu kelompok yang dipanggil keluar,” terangnya.

Dengan memahami diri sebagai gereja Tuhan, lanjut Frans, maka gereja harus menjadi saksi di tengah-tengah dunia yang penuh dengan berbagai konflik, baik itu konflik antar sesama, antar hambaTuhan, konflik sesama organisasi gereja.

“Kiprah jurnalis dalam hal ini sangat berperan dalam meliput berita-berita tersebut, dan mengaktualisasikan dalam bentuk tulisan, sehingga dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya masyarakat kristiani dan dapat diketahui dan dimengerti pokok persoalannya, tanpa harus mendatangi pribadi ataupun organisasi yang bermasalah,” tutur Frans.

Lagi pesan Frans, hal inilah yang perlu diingat sebagai seorang jurnalis agar dalam meliput berita dan menulisnya, hingga menjadi suatu tulisan yang layak diterbitkan, maka menulis dengan benar tanpa merugikan yang lain.

“Sebagai contoh sebuah berita seputar gereja, dimanaGereja Kristen Setia Indonesai (GKSI) yang konfliknya sudah berkepanjangan yang terpendam bagai gunung es dan baru meletus tahun 2014, hingga saat ini pun masih menjadi topic pembicaraan di kalangan masyarakat Kristen masa kini. Hal ini memberikan suatu fakta yang benar, dimana terjadi berbagai kesalahan yang dilakukan oleh pihak pertama melawan pihak kedua, maka sesuai kebenaran yang ada, maka terlihat betapa beraninya seorang jurnalis menampilkan fakta yang dapat dipercaya keautentikannya dan akhir darisegalanya, maka dunia melihat ini suatu bentuk kesalahan dalam gereja sebagai organisasi yang harus diperbaiki untuk kemajuan ke masa depan yang lebih baik,” bebernya.

Gereja di Indonesia yang berada di tengah masyarakat yang pluralis, lanjut Frans, diharapakan menjadi contoh bagi agama lain, sehingga keutuhan NKRI semakin kokoh karena kehadiran gereja menjadi saksi yang hidup.

Masyarakat pluralistic adalah karunia Tuhan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Karena itu, sebagai anggota masyarakat, setia pumat Kristen harus dapat bekerjasama secara maksimal dengan umat beragama lainnya, hidup penuh toleransi dan dapat bekerjasama dalam memajukan bangsa dan Negara,” tutupnya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan