Wabah Virus Corona dan Pemulihan Peribadatan Kita

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – VIRUS Corona (COVID-19) kini tengah mengancam kehidupan, bahkan peradaban dunia, tidak terkecuali Indonesia. Bukan cuman aspek Ekonomi, Kehidupan Sosial Kemasyarakat, dampak virus mematikan ini juga telah mengganggu kebiasaan umat beragama di dunia dalam peribadatan.

Bukan cumin perkantoran, pabrik dan sekolah yang ditutup sementara atau diliburkan, kegiatan beribadah di rumah ibadah pun turut diberhentikan sementara dengan alas an agar penularan virus corona tidak meluas.

Menarik bagi saya sebuah puisi yang diunggah Niluh Djelantik Chairunnisah. Isi puisi tersebut seperti menelanjangi kita akan kemunafikan kita selama ini. Mengaku beragama, berTuhan tetapi semuanya hanya rutinitas bahkan untuk kepentingan hawa nafsu kita.

Adanya wabah virus corona yang telah menyebar di hampir seluruh Negara di dunia seperti mengajak kita, menyadarkan kita untuk kembali kepada peribadatan kita kepada Tuhan yang sesungguhnya. Berikut isi puisi tersebut:

“Vatikan sepi.

Yerusalem sunyi.

Tembok Ratapan di pagari.

Paskah tak pasti.

Kabbah ditutup.

Shalat jumat dirumahkan.

Umrah dan haji batal.

Shalat tarawih Ramadhan mungkin juga bakal sepi.

Pawai ogoh-ogoh mungkin juga akan batal.

Corona datang se olah olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh!

Bahwa “hura hura” atas nama Tuhan itu semu.

Bahwa simbol dan upacara itu banyak yg hanya menjadi topeng dan komiditi dagangan saja.

 

Ketika Corona datang,

Engkau di paksa mencari Tuhan.

Bukan di basilika Santo petrus.

Bukan di kabbah.

Bukan didalam gereja.

Bukan di masjid

Bukan di mimbar khotbah.

Bukan di makjlis taklim.

Bukan dalam misa/ kebaktian minggu.

Bukan dalam sholat jumat.

Bukan pada rutinitas ritual di pura.

 

Melainkan,

Pada kesendirianmu.

Pada mulutmu yang terkunci.

Pada hakikat yang senyap.

Pada keheningan yg bermakna.

 

Corona mengajarimu Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.

Tuhan itu ada pada jalan keputu-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

 

Corona memurnikan agama

Bahwa tak ada yangg boleh tersisa.

Kecuali Tuhan itu sendiri.

Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar.

Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangankan Nama Tuhan.

 

Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nurani mu sendiri.

Temukan DIA di saat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamaNYA.

 

Sesungguhnya kerajaan TUHAN ada dalam dirimu.

Qalbun mukmin baitullah.

” Hati orang yang beriman adalah Rumah Tuhan.

 

Biarlah hanya Tuhan yang ada.

Biarlah hanya nuranimu yang bicara.

Biarlah para pedagang, makelar, politikus, dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini.

Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini. Mari kita bertobat, meminta ampun kepada Tuhan melalui doa kita. Mari kita berdoa serentak agar Tuhan menurunkan kasih dan mukjizatnya untuk dunia ini, khususnya Indonesia dipulihkan dari virus corona.

Jaringan Doa Nasional (JDN) telah mengajak kita untuk berdoa bagi pemulihan bangsa ini dan dunia. Mari kita berdoa untuk para korban, khususnya para dokter dan perawat agar dalam menjalankan tugasnya mengobati para pasien corona diberikan kesabaran, tanggungjawab dan terpenting dilindungi diri dan keluarganya dari penularan virus corona.

Baca Juga : ( Ajakan Doa 20.20.20 Bagi Pemulihan Bangsa, Ini Pokok Doanya )

Dengan sungguh, sebagai pribadi saya juga mengajak saudara/i yang membaca tulisan ini untuk terbeban, serempak dengan tulus disertai iman berdoa untuk pemulihan bangsa ini dan dunia agar terbebas dari virus corona. Jika anda merasa 20 menit terlalu lama, 2 menit, bila didoakan dengan sungguh-sungguh, saya yakin dan percaya mukjizat terjadi, Amin. Terima Kasih, Tuhan Yesus Memberkati kita semua. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan