“Awas Profesor Gadungan”, Kok Ambisius?

IJAZAH : DOKTOR/S3. Minimal 3 thn setelah memperoleh ijazah doktor/S3. Karya ilmiah yg dipublikasikan pd jurnal int’l bereputasi. Memiliki pengalaman sebagai dosen minimal 10 thn. Catatan utk poin 2 : dapat naik jabatan menjadi profesor setelah memperoleh ijazah doktor kurang dari 3 tahun, apabila memiliki TAMBAHAN karya ilmiah yg dipublikasikan pd jurnal int’l bereputasi (ps 26:5 PP 46)

Jakarta, majalahspektrum.com – DI Indonesia gelar masih menjadi prestisius tersendiri. Tidak perduli gelar tersebut “Bodong” atau diperoleh dengan cara-cara tak lazim. Di negara maju, gelar akademik merupakan pelengkap saja, bukan hal yang utama apalagi dibanggakan atau disombongkan. Di negara maju, seseorang dipekerjakan atau dihargai dari apa yang dilakukannya, apa yang bisa (Ahli) dia lakukan.

Saya jadi ingat akan peristiwa adanya seorang pendeta yang akan mengadakan acara penganugerahan dan syukuran gelar “Profesor”. Namun acara itu batal dilaksanakan karena adanya kritik ditambah adanya bantahan resmi dari lembaga yang akan menganugerahkan gelar tersebut. Pasalnya, memang lembaga tersebut tidak berwenang memberi atau menganugerahi gelar Profesor.

Di Indonesia, gelar Profesor merupakan jabatan fungsional, bukan gelar akademis. Ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 Butir 3, menyebutkan bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.

Jika sebelumnya dosen dengan gelar akademis magister (S2), bahkan sarjana (S1) bisa menjadi guru besar atau profesor, maka sejak tahun 2007 hanya mereka yang memiliki gelar akademik doktor saja yang bisa menjadi profesor. Hal ini disebabkan, karena hanya profesor inilah yang memiliki kewenangan untuk membimbing calon doktor.

Syarat untuk memperoleh gelar Profesor juga diatur dalam Permenpan 46 Tahun 2013 (pasal 26 ayat 3). Jabatan profesor hanya berlaku ketika berada di lingkungan akademik. Apabila mengundurkan diri (atau diberhentikan) dari kampus, maka tidak berhak lagi menyandang jabatan profesor. Dan Jika seorang profesor sudah memasuki usia pensiun, maka jabatan profesornya otomatis hilang.

Selain itu, gelar professor juga bisa berdasarkan penetapan angka kredit (jumlah tertentu) dari Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Sekian beratnya syarat untuk meraih gelar profesor yang nyata-nyata bukan gelar akademik itu. Tragisnya, ada saja orang atau dosen yang mengaku-ngaku bergelar “Profesor” tanpa rasa malu. Malu bila ketahuan masyarakat, apalagi (mudah diketahui) oleh almamaternya, Kampus atau sekolah tinggi yang menjadi tempatnya mengajar.

Berbagai alasan mungkin dijadikan alasan oleh oknum “Profesor Gadungan” diantaranya; agar diundang menjadi narasumber di berbagai kesempatan acara seminar atau diskusi, prestisius diri, menambah kehormatan, harkat dan martabatnya hingga tujuan menaikan harga jual /nilai dirinya.

Kok Ambisius memakai gelar Profesor?. Ada berbagai cara untuk mengetahui seseorang itu benar atau tidaknya memiliki gelar Profesor atau Guru Besar yakni; melihat dari website resmi sekolah tinggi tempat dia mengajar, website atau meminta data dari Kementerian Ristek, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) walau sekarang ini untuk perguruan tinggi dikembalikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kualitas atau kebenaran seseorang bergelar profesor juga dapat dilihat dari berapa (ada tau tidaknya) jurnal dan buku yang diterbitkan, khususnya jurnal internasional.

Adanya upaya kita memastikan seseorang tersebut benar atau tidaknya bergelar profesor ketika akan mengundang sebagai narasumber seminar atau diskusi, bahkan menawarkan suatu kedudukan atau jabatan menjadi penting agar kita bisa memastikan harga nilai orang tersebut. Bila “gadungan”, orang tersebut tidak pantas diberi kesempatan sebagai narasumber atau menduduki jabatan, pekerjaan apa pun, alasannya, tidak dapat dipercaya karena hal itu bagian dari sikap penipuan atau berbohong. Pembohong dan penipu identik dengat korupsi dan tidak dapat dipercaya perkataannya.

Jadi, waspadalah terhadap “Profesor Gadungan”. Dengan kita tahu bahwa seseorang itu bergelar profesor gadungan, maka kita terhindar dari sesuatu yang tidak baik di waktu yang akan datang. (ARP)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan