Tokoh Ini Dijuluki “Mentari Toleransi Indonesia dari Bekasi” Oleh PERWAMKI

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – WALIKOTA Bekasi, DR, H. Rahmat Effendi dianugerahi Penghargaan sebagai “Tokoh Toleransi” oleh Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI). Penghargaan itu diberikan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 PERWAMKI, yang berlangsung pada Selasa, 10 November 2020 di Hotel Aston, Pondok Indah, Jakarta Selatan

Akrab disapa Pepen, Walikota Bekasi, Dr. Rahmat Effendi selalu berdiri di garis depan untuk membela keberagaman. Dia bahkan menyebut Bekasi sebagai Indonesia mini, berusaha berdiri di tengah-tengah untuk melayani semua warga secara adil. Dia ingin menjadi rahmat bagi semua. Tidak berlebihan jika dikatakan sebagai “Mentari Toleransi Milik Indonesia”.

Pepen memandang perbedaan keyakinan, suku dan agama sebagai anugerah Tuhan. Dan sebagai pemeluk Islam, ia paham betul bahwa Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, karena itu ia selalu mengajak masyarakatnya untuk hidup harmonis, agar benar-benar menjadi rahmat bagi siapa pun.

Walikota Bekasi, DR,H. Rahmat Effendi

Dalam Perayaan puncak HUT ke-17 PERWAMKI yang bertajuk; “Malam Cinta Bagi Negeri” itu, penghargaan kepada Pepen diterima oleh Kabag Humas Kota Bekasi, Sajekti Rubiah karena Walikota Bekasi tersebut berhalangan hadir karena berbenturan dengan tugas.

Karena peran Pepen dalam menjaga dan meningkatkan toleransi di Bekasi, Perwamki menyebutnya sebagai “Mentari Toleransi Indonesia dari Bekasi”.

Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan serta mengalami proses di Bekasi, Pepen ingin  membangun Bekasi sebagai sebuah kota yang metropolis, namun tidak meninggalkan peradaban dan kultur lokal. “Bahwa pada tahapan tertentu kita jadi metropolis, iya, tapi budaya kita harus tetap melekat, sehingga kita tidak kehilangan jati diri,” kata Pepen, pria kelahiran Bekasi, 3 Februari 1964 ini.

Untuk kasus apa pun jelas Pepen, jika sudah memiliki kekuatan hukum tetap dan mengikat, ia harus konsisten sebab ia menjalankan tugas di negara hukum.

“Saya yakini begini. Rasululloh, Nabi Muhammad SAW, kan tidak selesai dalam 23 tahun kenabiannya. Ia diperintah oleh Tuhan untuk perbaiki akhlak sampai dengan saat ini. Makanya, pada saat saya berhadapan dengan masyarakat yang seperti itu, saya akan terus lakukan upaya-upaya terukur. Kita tidak boleh berhenti memperjuangkan sesuatu apalagi sangat fundamental,” tegasnya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan