Lagu “It Is Well With My Soul” Diangkat Dari Rentetan Kisah Tragis Yang Dialami Penciptanya

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – KITA (umat Kristiani) sering mendengar lagu “It Is Well With My Soul” karya seorang Pengacara (Lawyer) yang sangat kaya dari Chicago. Lagu ini ada di Buku Ende (Buku Nyanyian) gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Ya memang lagu ini sudah diterjemahkan dalam berbagai Bahasa, dalam Bahasa Indonesia lagu ini sering kita dengar dinyanyikan oleh tim paduan suara (Choir).

Namun, tahukah anda bahwa lagu ini diangkat dari kisah tragis yang dialamai sang penciptanya, Horatio Spaffod. Memang sebagai umat kristiani kita hidup dengan iman yang tertuju kepada Kristus, tetapi terakadang iman kita diuji dengan tragedi yang sangat luar biasa.

Lagu hymne berjudul “It is well with my soul” diciptakan oleh Horatio Spafford, seorang pengacara kaya dari Chicago. Pada tahun 1870, ia kehilangan anak laki-laki satu-satunya oleh karena penyakit demam berdarah. Satu tahun kemudian, terjadi tragedi bernama The Great Chicago Fire, dan itu membakar habis hampir seluruh assets properti yang ia miliki.

Spaffod merasa hidup tidak terlihat begitu baik bagi diri dan keluarganya. Spafford akhirnya merencanakan sebuah perjalanan bersama istri nya dan ke empat anak perempuannya ke Eropa untuk menyaksikan seminar D.L.Moody. Namun, Spafford tiba-tiba mendapatkan masalah bisnis yang harus diselesaikan, sehingga ia mengatakan kepada istri dan keempat anak perempuannya untuk mendahului nya berlayar, ia mengatakan bahwa ia akan menyusul secepatnya. Meskipun Spafford tidak dapat bergabung bersama keluarga nya, ia senang karena keluarganya dapat berkumpul bersama para Kristen-Kristen lainnya di kapal tersebut.

Namun, di dalam perjalanannya, kapal yang membawa istri dan anak-anak Spafford mengalami kecelakaan, dan kapal tersebut hanyut ke dasar laut. Setelah beberapa hari, Spafford mendapatkan sebuah telegram dari istrinya. Pesan tersebut hanya memiliki dua kata, “selamat sendirian.” Ke empat anak perempuan dari Horatio Spafford tidak selamat, mereka semua tenggelam di lautan itu.

Spafford akhirnya berlayar untuk menemui istrinya, dan sepanjang perjalanan ia hanya meratapi laut yang telah mengambil keempat anak perempuannya. Dan di dalam perjalanannya, ia memuji Tuhan dan menuliskan hymne ini,

When peace, like a river, attendeth my way,

When sorrows like sea billows roll;

Whatever my lot, Thou has taught me to say,

It is well, it is well, with my soul.

Meski rentetan Tragedi kesedihan menimpa Spafford, namun ia masih mampu memuji TUhan. Usaha hancur dan kehilangan semua anak yang dimiliki bukanlah perkara gampang bagi kita untuk tetap tabah, kuat dan masih memuji Tuhan.

Kesetiaan yang Spafford miliki mengingatkan kita tentang apa yang tertulis di kitab injil, 1 Petrus 4:19. Dalam nats firman Tuhan tersebut Petrus mengingatkan kita bahwa terkadang kita akan menderita karena kehendak Allah, tetapi ketika kita mengalami itu semua, kita harus tetap mempercayakan jiwa kita kepada Sang Pencipta yang setia.

Tonton Vidio : ( “It Is Well With My Soul” atau “Dung Sonang Rohaku Dibahen Jesus” (BE: 213)

Dua bait pertama dari lagu It Is Well With My Soul menceritakan dukacita oleh karena tragedi-tragedi yang Spafford alami. Namun, ketiga bait selanjutnya menceritakan tentang rasa syukurnya atas pengampunan yang Yesus telah berikan di atas kayu salib, beserta pengharapannya kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya.

Tentu ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan tidak masuk akal, Spafford masih tetap memuliakan Tuhan bahkan di tengah-tengah dukacita mendalam yang dialaminya.

Beberapa Minggu setelah semua itu terjadi, istri dari Spafford mengatakan bahwa mereka tidak sedang kehilangan anak-anaknya, melainkan hanya berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Spafford beserta istrinya menunjukkan kepada kita bentuk dari iman sejati.

Kisah dari Horatio Spafford mengingatkan kita akan Kekristenan yang sesungguhnya.

Kekristenan bukanlah tentang, “Jika Engkau mengikut Yesus, engkau akan memiliki hidup enak yang bebas masalah di dunia ini.”

Tetapi, Kekristenan yang sesungguhnya adalah tentang, “Aku akan tetap berdiri untuk Yesus, apa pun permasalahan yang terjadi pada ku di dunia ini.”

Seluruh tragedi yang menimpa Spafford tidak dapat merengut sukacitanya oleh karena penebusan yang Yesus Kristus telah berikan untuknya. Apa pun masalah yang sedang menimpa mu hari ini, percayalah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat melebihi keindahan pengorbanan yang Yesus telah berikan kepada mu. Sang juru selamat, Yesus Kristus tidak pernah meninggalkanmu. Amin. (ARP/DBS)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan