Jawaban Atas Kekhawatiran Pengambil Alihan RS.PGI Cikini

Jakarta, majalahspektrum.com – DALAM seminggu ini ramai di media sosial tentang pengalihan Rumah Sakit PGI Cikini ke pihak lain yakni Priyama Group. Salah satu media online bahkan memuat berita dengan judul “PGI Diam-diam Alihkan Kepemilikan RS.Cikini ke Sandiaga Uno”. Bukan hanya itu, sekelompok orang yang tidak setuju tentang pengambil alihan Rs.PGI Cikini tersebut juga menggelar diskusi webinar yang diupload di medsos Youtube.

Banyak umat kristiani dan netizen yang mengkhawatirkan jika RS.Cikini diambil alih akan menghilangkan nuansa kristiani yang melekat selama ini pada RS.Cikini. bahkan ada yang mengkhawatirkan RS tersebut kelak bukan lagi milik PGI.

Menanggapi berita tersebut, Ketua Umum PGI, Pdt, Gomar Gultom menjelaskan, bahwa surat yang beredar yang menjadi berita miring tersebut hanya surat pengajuan bukan surat kesepakatan kerjasama yang telah disepakatai.

“Orang bikin pengajuan kan sah saja, tapi bukan itu yang disepakati, bukan?. Yang pasti tidak ada pengambilalihan, tapi BOT. Namun dilakukan sangat hati-hati agar PGI tidak kehilangan RS ini. Untuk itu, kami betul-betul jaga: 1. Nama RS PGI Cikini tetap dipertahankan, 2. Sedikitnya 5% dari bed yang ada untuk layanan sosial (dengan rekomendasi Yakes PGI Cikini), 3. Tanah, bangunan dan proyek tidak bisa diagunkan, apalagi dijual.,” terang Gomar kepada majalahspektrum.com via layanan Whats App saat dimintai klarifikasinya, Rabu, 30 Juni 2021.

Untuk menjaga itu semua, kata Gomar, dipastikan dalam perjanjian BOT itu Presiden Komisaris dari PT yang mengelola ditunjuk oleh PGI dan satu direksi yang bertalian dengan pengawasan juga ditunjuk oleh PGI.

Sementara, salah seorang anggota tim Negosiasi RS. Cikini, yang dibentuk oleh ppinan PGI pada bulan Juni 2020, DR, Miranda Gultom juga meluruskan berita-berita yang dianilai tidak benar dan misleading yang beredar di medsos selama ini.

Menurut Miranda, Kekhawatiran akan tersingkirnya para dokter dan Tenaga Kesehatan (Nakes) sengaja diangkat sebagai issue, padahal seluruh nakes dan dokter masih akan terus dimanfaatkan karena RS. PGI Cikini harus terus berjalan.

“Seraya melakukan pembenahan dan perbaikan gedung, alat-alat usang dan tertinggal jaman, ruang operasi yang kurang layak, MRI yang rusak, dll. Dibanding RS St. CAROLUS DAN YARSI, RS Cikini ketinggalan jauh,” terang Miranda.

Lanjut Miranda, Issue seakan-akan “heritage” akan terganggu juga sama sekali tidak benar, karena tanah yang di BOT-kan dengan Primaya hanya seluas 10.000 m2 dari 55.000 m2, dan berada di samping lahan parkir yang tidak akan menggunakan daerah-daerah heritage atau menutupi rumah Raden Saleh, capel dan lainnya yang sudah didirikan sejak jaman Belanda.

“Sisa 45.000 yang tidak di BOT-kan nantinya akan dikembamgkan untuk Hospice center seperti Special Clinic, Paliative Center, Rumah Duka modern yang lengkap, dan Hotel yang bisa menunjang pelayanan RS. Yang patut digaris bawahi adalah bahwa dalam perjanjian BOT ini Investor Tidak boleh Me-Agunkan Tanah dan Bangunan, apalagi menjual nya,” kata Miranda.

Bahkan, lanjut Miranda, perjanjian kerja sama ini mensyaratkan bahwa Komisaris Utama dam Direktur Keuangan dari PT joint venture yang dibentuk adalah wakil dari PGI.

“Juga yang penting, pak Gomar sebagai ketua umum PGI mensyaratkan bahwa wakil dari PGI haruslah profesional di bidangnya, bukan ex officio atau MPH PGI. Dengan demikian, proses manajemen RS modern dapat dilaksanakan dengan benar, tidak terjadi kuasa tanpa batas, dan PGI/Yakes masih ikut dalam memonitor kinerja RS Primaya PGI Cikini ini,” tukasnya.

Terkait Issue panas yang sering diangkat bahwa RS.Cikini bukan RS Kristiani lagi, menurut Miranda hal itu salah kaprah. “Nama RS tetap RS PRIMAYA PGI CIKINI. Jelas punya gereja,” kata Miranda.

“Juga partner PT FABS (Primaya Group) 70% dimiliki Prof. Yos yang Katholik. Jadi, jangan termakan issue-issue dan fitnah-fitnah,” sambung Miranda.

Dijelaskan Miranda, perbaikan ini diperlukan karena sebelum Covid, RS Cikini sangat kesulitan keuangan dengan tingkat hunian (BOR) yang sangat rendah, dibawah 40%, sesuatu yang sangat disayangkan terjadi di RS yang cintai umat kristiani ini.

“RS Cikini rugi terus sampai dengan Maret 2020, baru mulai surplus sepenuhnya kerena Covid. Bayangkan betapa mirisnya. Karena RS Hermina di Jatinegara saja untung Rp 28 M per bulan  yang di Bekasi 32 M per bulan. Sungguh terlihatnya perlu perbaikan total,” tandasnya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan