MUKI Ingin Luruskan Sejarah Kekristenan di Indonesia

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – KETUA Umum Pusat MAJELIS Umat Kristen Indonesia (MUKI), Djasarmen Purba mengatakan pihaknya saat ini ingin meluruskan sejarah munculnya kekristenan di Indonesia. Hal itu karena selama ini ada anggapan bahwa Kristen hadir di Indonesia karena penjajahan Belanda.

“Ini harus diluruskan karena faktanya para misionaris Kristen yang menyebarkan agama Kristen di Indonesia ada yang dari Jerman, Amerika bahkan orang asli Indonesia,” kata Djasarmen saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (26/3/2022).

Djasarmen lantas mencontohkan kiayi Sadrak yang dijuluki “Rasul Jawa”. “Dia (Sadrak) mengalami perjumpaan dengan Yesus saat bertapa (semedi) lalu menceritakannya ke keluarganya,” jelasnya.

Menurut Djasarmen, apa yang hendak dilakukan MUKI tersebut kurang diketahui masyarakat karena kurangnya publikasi media.

“Banyak yang mempertanyakan MUKI apa yang dikerjakan, padahal banyak hal yang sudah dan akan kita kerjakan salah satunya soal pelurusan sejarah lahirnya kekristenan di Indonesia yang selama ini dikatakan karena penjajahan Belanda padahal bukan,” ungkap mantan anggota DPD RI 2 periode ini.

Yang paling santer dari program atau misi MUKI adalah adanya Kristen Center di Indonesia, khususnya di kota-kota besar dan kota-kota dimana banyak atau mayoritas pemeluk agama Kristennya.

“Seperti di Manado, Papua dan papua Barat dan tentu saja utamanya di Jakarta dimana saat ini sudah kita ajukan ke Gubernur dan sedang dicarikan lahannya. Di Ambon malah sudah ada Kristen Center yang dibangun oleh inisiatif kepala daerah setempat,” terang Djasarmen.

Di Kristen Center nantinya, kata Djasarmen, aka ada ruang-ruang berbagai aliran Kristen dimana di ruang-ruang itu siapa saja dapat belajar teologia. Selain itu, di Kristen Center juga akan digelar berbagai diskusi soal apa saja yang menyangkut kekristenan di Indonesia.

“Di Kristen Center inilah rohnya Oikumene itu menurut saya. Jadi tidak ada lagi sekat-sekat aras gereja seperti PGI, PGLII, PGPI, Advent, dan lainnya, di Kristen Center inilah semua bersatu,” jelasnya.

Ditegaskan Djasarmen, keberadaan MUKI bukan karena ikut-ikutan adanya MUI. Lagipula, kata dia, wajar saja jika umat Kristen di Indonesia ingin ada Kristen Center. “Semua punya hak yang sama, tidak ada mayoritas minoritas di Negara ini,” tegasnya.

Di MUKI, kata Djasarmen lagi, banyak para pakar di berbagai bidang, mereka menyumbangkan pemikiran dan melakukan riset untuk kemajuan bangsa Indonesia khususnya menyangkut umat kristiani.

“Bukan saja soal kekristenan, apa saja kita perhatikan termasuk saat ini tentang langka dan mahalnya minyak goreng, apa penyebabnya,” tututnya.

MUKI juga aktif menyoroti persoalan politik, salah satunya tentang isu Presiden RI 3 periode dan perpanjangan masa jabatan presiden. Dalam waktu dekat MUKI akan menggelar diskusi tentang siapa pantas menjadi Presiden RI 2024. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan