Prihatin Dengan Mamasa, Agus Butarbutar Bacabup Independen 2024 Yang Didukung Warga Lokal dan Gereja

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – PRIHATIN dengan keadaan Mamasa, seorang advokat yang juga pengusaha restoran, Agus Butarbutar akan mencalonkan diri sebagai Bupati Mamasa, Sulawesi Barat pada Pemilu serentak 2024 yang akan datang melalui jalur independen.

Agus menilai, selama 12 tahun belakangan ini, Kabupaten Mamasa seperti daerah yang terisolir. Pasalnya, hampir tidak ada pembamgunan di kabupaten tersebut, baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusianya (SDM).

“Bandara yang baru dibangun saja ditutup tak beroperasi. Sinyal handphone susah nyaris tak ada, saya kalau mau bertelephone mesti ke kota, jalan-jalan rusak berat,” kata Agus saat ditemui di PIK 1, Jakarta Utara, Minggu (17/7/2022) malam.

Akibat infrastruktur yang tak memadai seperti Jalan yang rusak, berlumpur dan berair. Akibatnya, perekonomian tidak berjalan. Selain itu, lanjut Agus, banyak pasar dibangun asal ada karena dibangun di wilayah yang tidak padat penduduk seperti; Pasar  Lakahan, Pasar Tabulahan, Pasar Tandukkalua dan Pasar Barakbarak. Akibatnya, pasar-pasar itu kosong penjual dan pembeli.

“Yang palinmg aneh lagi, ada pasar yang lama sejak dahulu malah ditutup, dipindahkan ke tempat lain dan lokasi bekas pasar tersebut dibangun patung Kerbau yang menurut saya tidak ada gunanya. Mematikan peredaran uang karena sebuah patung, itu cara berpikirnya bagaimana ya,” ungkapnya.

Akibat jeleknya infrastuktur jalan, jembatan dan lainnya, kata Agus, potensi pendapatan kas daerah dan pertumbuhan ekonomi warga Mamasa melemah bahkan mati.

“Mamasa memiliki potensi daerah pariwisata unggul. Pemandangan pegunungannya indah nan sejuk, ada air terjun terbaik kedua sedunia di Mamasa. Kopi Toraja yang terkenal itu ya dari Mamasa,” jelasnya.

Menurut pemilik Rumah Makan Abbjud di kota Makasar ini, terpuruknya Mamasa karena salah kelola pemerintahan. Program-program yang direncanakan dan sudah dianggarkan tidak berjalan, APBD tak jelas kemana larinya.

“Kabupaten Mamasa itu bisa besar jika semua anggaran dan rencana kerja dari unsur Dinas-dinas yang ada dijalankan dan tidak melakukan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Selama 12 tahun ini Mamasa bukan semakin maju malah semakin terpuruk. Saya beberapa kali mendatangi dan bersurat ke KPK dan Kejagung agar turun ke sana melakukan audit atau pemeriksaan. Saya mencium dugaan kuat adanya penyelewengan anggaran kas daerah,” ungkap suami dari Juniar Panjaitan ini.

Oleh karena itu, lanjut dia, jika dia tetpilih menjadi Bupati Mamasa, hal pertama sekali yang ia lakukan adalah meminta kepada KPK atau Kejagung untuk melakukan pemeriksaan sebelum ia menerima serah terima jabatan laporan program dan keuangan.

“Dan saya akan mengedepankan akuntabilitas dan transparansi dalam kepemimpinan saya sebagai Bupati Mamasa,” tegasnya.

Agus memilih jalur independen atau perseorangan sebagai Bakal Cakon Bupati (Bacabup) Mamasa agar tidak terpenjara oleh kepentingan Parpol.

“Saya mau sebagai Bacabup Mamasa karena diminta oleh masyarakat, khususnya oleh masyarakat gereja. Mereka pilih saya yang bukan orang asli Mamasa karena menurut mereka lebih baik orang luar daripada orang asli Mamasa karena sudah terbukti selama puluhan tahun tidak ada perubahan terhadap Mamasa,” tutur Agus yang lahir di Maksar keturunan etnis Batak ini.

Keyakinan Agus maju sebagai Bacabup Mamasa karena mendapat dukungan dati warga gereja.

“Orang Kristen 80 persen di Mamasa tetapi kenapa selalu orang dari saudara kita muslim yang jadi Bupati di sana,” tandas anggota jemaat Gereja Toraja Mamasa (GTM) ini.

Untuk diketahui, Kabupaten Mamasa, provinsi Sulawesi Barat lahir pada, 10 April 2002 berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2002 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Polewali Mamasa, Sulawesi Selatan seiring pemekaran terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat.

Baca Juga : (Kabupaten Mamasa Mayoritas Kristen Namun Kerap Dipimpin Muslim. Kaya SDA Namun Seperti Terisolir

Kabupaten Mamasa memiliki 17 Kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 183 ribu jiwa. Memiliki jarak 340 Km dari kota Makasar, Sulsel, mayoritas penduduk Mamasa beretnis Toraja. Di sanalah yang terkenal tentang kebudayaan kuburan dalam bukit etnis Toraja.

Keindahan alam Mamasa yang memiliki Air terjun terindah kedua di dunia ini bisa menjadi daerah destinasi pariwisata unggul di Sulawesi Barat, sayangnya krunggulan itu tidak diberdayakan oleh pemerintah setempat.

“Jika diijinkan sebagai Bupati Mamasa, saya akan bangun kolam permandian air panas, memperindah dan bikin nyaman tempat-tempat objek wisata potensial. Saya akan promosikan air terjun terindah kedua di dunia itu secara masif pun dengan hasil perkebunan, utamanya Kopi Toraja yang sudah terkenal kualitasnya,” tutup Agus yang memiliki slogan “Mamasa Bangkit, Maju” dalam pencalonannya sebagai Bacabup tersebut. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan