Marak Intoleran di Sekolah, Bersihkan Kemendikbud dan Guru Pendidik dari “Kadrun”

gbi shalom

Jakarta, Opini, Majalahspektrum.com – SUDAH sejak lama dunia pendidikan kita Disusupi, Dibusuki oleh oknum-oknum pengusung Khilafah berprilaku intoleran yang dalam istilah sekarang disebut kaum “Kadrun”. Mereka mau menggerus nilai-nilai Kebangsaan yang sudah ada sejak Indonesia merdeka. NKRI dengan Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup bangsa mau diganti dengan faham Khilafah.

Sejak mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dihapus dari sekolah dan diganti dengan PPKN, khususnya sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa dengan mitra koalisi dekatnya PKS, sekolah-sekolah negeri seperti sekolah agama. Apalagi Menteri Pendidikan yang ditunjuk oleh SBY kerap orang yang diragukan nasionalismenya.

Mulai dari perubahan seragam sekolah; bagi siswa Laki-laki memakai baju koko celana panjang (lebih bagus kalau cingkrang), lalu para siswi diwajibkan memakai seragam panjang dari leher sampai mata kaki (lebih bagus, diharuskan bagi yang muslimah berjilbab) hingga kewajiban setiap sekolah memiliki bangunan Mushola atau Masjid megah di area sekolah. ekstrakulikuler keagamaan pun dibuat over aktif dan masif. Kegiatan keagamaan tertentu di sekolah juga sangat aktif. Dan kebiasaan-kebiasaan di agama tertentu diberlakukan di sekolah seperti mengucap salam atau salim.

Generasi muda kita seperti mau diarahkan untuk membiasakan diri hidup ala model Negara Islam. Ya tentu saja karena ada Big Design sekelompok orang yang ingin merubah Indonesia menjadi Negara agama, apalagi dengan Lebel Indonesia sebagai Negara Islam (harusnya Berpenduduk Islam) terbesar di dunia.

Akibat sekolah-sekolah negeri berubah seperti sekolah agama, banyak orangtua non muslim, khususnya Kristen yang enggan dan takut memasukan anaknya bersekolah di sekolah negeri, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Mungkin karena hal ini sekolah-sekolah negeri kalah dengan dengan sekolah swasta Kristen berprestasi di ajang Olimpiade Sains Internasional.

Tak jarang, orangtua Kristen memaksakan diri menyekolahkan anaknya masuk sekolah swasta Kristen padahal penghasilannya pas-pasan. Kalaupun masuk sekolah negeri, itu karena terpaksa karena benar-benar tak punya uang cukup atau karena sekolah negeri itu merupakan sekolah negeri unggulan.

Baca Juga : ( Ortu Kristen Takut Masukan Anaknya ke Sekolah Negeri di Jakarta )

Dalam sebulan ini, marak diberitakan (berita viral) tentang kasus intoleransi di sekolah, mulai dari pemaksaan pemakaian jilbab di sekolah negeri kepada siswi Kristen di Sumatera Barat, Pemaksaan seragam jilbab di SMAN 1 Banguntapan, Yogyakarta serta 10 sekolah negeri di Jakarta yang kedapatan kasus diskrimani pemaksaan memakai jilbab hingga pemilihan Ketua OSIS yang seiman oleh oknum guru.

Yang paling mirisnya, kebanyakan guru yang melakukan diskriminasi tersebut adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan. Ini semakin menguatkan adanya By Design menyusupkan guru “Kadrun” ke mata pelajaran Kewarganegaraan guna mengganti NKRI dengan dasar dan falsafah Pancasila menjadi Negara agama berfaham Khilafah.

Melihat fenomena ini, saya mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim melakukan reformasi bersih-bersih pegawai di Kementeriannya yang terpapar faham intoleran. Bersihkan PNS di Kemendikbud dan Guru-guru “Kadrun” dari dunia pendidikan. Apalagi sudah tak terbilang kasus penyelewengan isi buku pelajaran, terakhir soal doktrin Trinitas Kristen dalam buku Kewarganegaraan SMP yang baru-baru ini diprotes PGI, jika diselidiki secara nalar, ini bukan tindakan ketidakkesengajaan tetapi memang disengaja demikian oleh si penulis.

Baca Juga : ( Buku PPKN Sengaja Disesatkan, Bersihkan Kemendikbudristek dari Kadrun )

Bukan cuman membersihkan PNS di Kemendikbud dan guru-guru di sekolah negeri yang ada sekarang, ke depan, perekrutan guru atau PNS baru di Kemendikbud juga harus diseleksi dengan ketat. Jangan ada lagi oknum “Kadrun” menyusup di dunia pendidikan kita karena itu sangat bahaya untuk masa depan Indonesia yang kita cintai dan miliki bersama ini.

Penulis : Agus Riyanto

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan