China Ancam Kebebasan Beragama di Hongkong

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – UTUSAN Vatikan di Hong Kong, Monsinyur Javier Herrera-Corona, menyampaikan pesan soal kebebasan beragama yang mereka nikmati selama beberapa dekade  di Hongkong terancam berakhir. Pernyataan gamblang itu disampaikan perwakilan tidak resmi Vatikan itu kepada 50 misi Katolik di kota Administratif Khusus China, sebelum menyelesaikan enam tahun jabatannya pada Maret.

Dilansir dari Reuters, Kamis (1/9/2022), dalam empat pertemuan yang diadakan selama beberapa bulan mulai Oktober tahun lalu, Uskup asal Meksiko itu mengatakan kepada para misionaris Katolik di Hong Kong untuk mempersiapkan masa depan yang lebih keras, ketika China memperketat kontrolnya atas kota itu.

Imam berusia 54 tahun ini “mendesak rekan-rekannya untuk melindungi properti, dokumen, dan dana yang dimiliki oleh misi keagamaannya,” menurut empat orang yang akrab dengan sesi tertutup itu, yang meminta namanya tidak disebutkan karena sifat sensitif dari isu yang dibahas.

“Perubahan akan datang, dan Anda sebaiknya bersiap-siap,” Herrera-Corona memperingatkan para misionaris, menurut salah satu orang kepada Reuters. “Hong Kong bukanlah tempat berpijak Katolik yang hebat seperti dulu,” kata narasumber itu meringkas pesan monsignor. Pesan Herrera-Corona datang di tengah tindakan keras keamanan nasional oleh Beijing di Hong Kong, setelah protes anti-pemerintah pada 2019.

Pasca kejadian itu kebebasan sipil terkikis, puluhan aktivis pro-demokrasi ditangkan, dan ada ancaman yang dirasakan terhadap kemerdekaan peradilan kota.

Tetapi kekhawatiran pemimpin keagamaan itu melampaui tindakan keras hukum keamanan nasional Hong Kong yang sedang berlangsung, menurut orang-orang. Herrera-Corona memperingatkan bahwa integrasi yang lebih dekat dengan China di tahun-tahun mendatang, dapat menyebabkan pembatasan gaya daratan pada kelompok-kelompok agama.

Reuters melaporkan pada Desember bahwa para pejabat dari Kantor Penghubung Beijing di kota itu menyelenggarakan sebuah acara, di mana para uskup China memberi penjelasan kepada para ulama senior Hong Kong tentang visi agama Presiden China Xi Jinping dengan “karakteristik China”. Pada kunjungan ke Hong Kong untuk menandai peringatan 25 tahun penyerahannya ke pemerintahan China, Xi membela gaya pemerintahan kota “satu negara, dua sistem”.

Itu memberi Hong Kong otonomi luas, yang tidak terlihat di daratan China, termasuk soal agama dan kebebasan pers. Sistem “harus dipertahankan dalam jangka panjang,” janjinya.

Selama beberapa dekade, kelompok misionaris asing telah beroperasi sebagian besar tak terkekang di wilayah bekas jajahan Inggris. Itu membentuk kantong masyarakat beragama Katolik di tepi daratan China, yang berada di bawah kekuasaan Partai Komunis.

Sering didanai dan diarahkan oleh negara lain, perkumpulan misionaris di Hong Kong bekerja sama erat dengan gereja Katolik setempat dan mengambil bimbingan dari Vatikan Roma. Mereka berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan seperti pengentasan kemiskinan dan pendidikan. (Juni R)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan