Jakarta, majalahspektrum.com – SETELAH 10 Tahun bertikai, akhirnya dualisne kepemimpinan di sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) terselesaikan meski dengan cara yang unik.
Sejarah Singkat dan Awal Mula Pertikaian GKSI
GKSI berdiri pada 21 September 1988 dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan yang diterbitkan oleh Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama pada Tanggal 10 Juli 1989. Kemudian terdaftar sebagai anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada Tahun 1992 dengan Nomor Keanggotaan 64.
GKSI terbentuk dari hasil pekabaran Injil dan pelayanan mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA), yang dimotori oleh beberapa tokoh seperti Matheus Mangentang, Willem Frans Ansanay, dan lainnya.
Awal mulanya, GKSI muncul dari pelayanan Yayasan Kasih Sejahtera (YAKASTRA) dan kemudian bergabung dengan Gereja Zending Protestan Chung Hua Ya She Kauw Fie. Sejak berdiri hingga tahun 2014 (Peroecahan dualisne kroemimpinan) GKSI dipimpin oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang, S.Th.
Pada 2014 terjadi mosi tidak percaya kepada Pdt, Matheus Mangentang yang kemudian menonaktifkannya sebagai Ketua Sinode GKSI. Ditunjuklah Pdt, Ramses Silalahi sebagai pelaksana tugas (Plt.) Ketua Sinode sampai dilakukan pemilihan ketua baru di Sidang Sinode Istimewa pada November 2015.di anjungan Papua, TMII, Jakarta Timur.
Pada Sidang Sinode tersebut, terpilihlah Pdt, Marjiyo, M.Th sebagai Ketua Sinode GKSI yang baru. Tak terima dengan hal itu, Pdt, Matheus Mangentang yang sudah 24 tahun berkuasa akhirnya memilih tetap bertahan sebagai Ketua Sinode dan menjadi Ketua Sinode GKSI versi Daan Mogot. Sejak saat itulah terjadi dualisme kepemimpinan di GKSI.
GKSI pimpinan Pdt, Matheus Mangentang disebut GKSI Daan Mogot karena berseketariat sinode di Jl. Daan Mogot, sedangkan GKSI yang dipimpin Pdt, Marjiyo disebut GKSI Kerja Bakti karena berseketariat di Jl. Kerja Bakti, Kp.Makasar, Jakarta Timur. belakangan, GKSI Kerja Bakti disebut sebagai GKSI Rekonsiliasi karena terus berupaya adanya rekonsiliasi. penyatuan kembali di tubuh sinode GKSI.
Baca Juga : ( Sidang Sinode Ke-5 GKSI Usung Semangat Rekonsiliasi )
“Apa yang mau kita (Gereja) saksikan ke luar kalau terus bertikai,” kata salahsatu pendiri GKSI, Frans Ansanay beralasan.
Perdamaian Dualisme Kepemimpinan GKSI
Berbagai upaya dan cara penyelesaian dualisme kepemimpinan di tubuh sinode GKSI telah dilakukan namun kandas. Dirjend Bimas Kristen, PGI bahkan Mediator lainnya yang memberikan perhatian terhadap polemik di GKSI telah mencoba memberikan nasehat, saran dan masukan serta solusi namun kandas karena tidak ada kesepakatan dari kedua belah pihak.
Karena merupakan anggota PGI, di setiap Sidang MPL dan Sidang Raya PGI, masalah GKSI kerap menjadi agenda pembahasan hingga akhir pada Sidang Raya PGI ke-18 di Toraja, Desember 2025, penyelesaian konflik GKSI menemui jalan terang.
Di sidang raya ke-18 Toraja, PGI secara tegas meminta kepada kedua belah pihak GKSI mau menandatangani fakta integritas dimana isinya bersepakat masing-masing pihak membuat sinode baru, tidak ada pihak yang memakai nama Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dan keduanya langsung diterima menjadi anggota PGI.
Menindaklanjuti kesepakatan perdamaian di Sidang.Raya PGI Toraja, bertempat di kantor pusat Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, Jl. Salemba, No.10, Jakarta. dilakukanlah penetapan nomor keanggotaan kedua belah pihak GKSI di PGI dengan cara diundi. Pilihannya, siapa yang akan memakai nomor keanggotaan lama GKSI di PGI, yakni nomor 64 dan kubu yang mana yang akan memakai nomor keanggotaan PGI yang baru, yakni nomor 105.
Hasil pengundian tersebut, GKSI Kerja Bakti atau GKSI Rekonsiliasi saat ini dipimpin Pdt, Dr, Iwan Tangka menggantikan Pdt, Majiyo sejak Tahun 2021 mendapatkan nomor keanggotaan “64”, sedangkan GKSI Daan Mogot pimpinan Pdt, Matheus Mangentang mendapatkan nomor urut 105, nomor keanggotaan terakhir di PGI.
Pengakuan dan nomor urut keanggotaan mereka di PGI pun akhirnya secara resmi disahkan pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI di kota Batu Malang, Jawa Timur, Febuari 2025 lalu.
Baca Juga : ( Contoh Baik Alih Kepemimpinan di Sinode GKSI Kerja Bakti )
“Tuhan tunjukan jalan Kebenaran,” kata Ketua Majelis Tinggi GKSI Rekonsiliasi, Frans Ansanay merespon hal itu.
Nama Sinode Baru Pecahan GKSI
Kesepakatan damai dualisme kepemimpinan di sinode GKSI ditandai dengan lahirnya dua sinode gereja baru.
Dari informasi yang didapat, GKSI pimpinan Pdt, Matheus Mangentang kini memakai nama menjadi sinode Gereja Kristen Setia Indonesia Sabas (GKSI Sabas), sedangkan GKSI pimpinan Pdt, Iwan Tangka belum menentukan nama barunya.
Menurut Ketua Majelis Tinggi GKSI Rekonsiliasi, Frans Ansanay, nama baru sinode gereja pihaknya baru akan ditentukan pada Sidang Sinode di Kalimantan, Tanggal 25-30 Juni 2025.
“Perubahan nama ini khan tidak gampang, banyak yang harus diubah, mulai dari akta hukumnya hingga kop surat dan plang nama Gereja. belum lagi sosialisasi ke berbagai pihak, khususnya anggota jemaat kita,” terang Frans saat ditemui di kantor sekretarian GKSI Jl. Kerja Bakti, Kp.Makasar, Jaktim, Senin (23/6/2025).
Sementara untuk logo, Frans menyatakan bahwa GKSI pihaknya akan memakai logo yang sama. Pasalnya, logo tersebut telah dipatenkan, didaftarkan ke Menkumham oleh perancangnya yang tak lain adalah Pdt, Marjiyo. (ARP)

