Site icon

Untuk Kehidupan Apa Guru Mendidik?

I. Ketika Seorang Murid Membuat Guru Bertanya

Ada sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun pertama saya mengajar di sebuah sekolah yang sampai hari ini masih saya ingat.

Saat sedang menyampaikan materi pelajaran, saya menegur seorang peserta didik karena ia tidak duduk di tempat yang seharusnya. Teguran sederhana itu ternyata mendapat respons yang tidak saya duga. Ia menunjukkan kemarahan kepada saya.

Sebagai guru, sebenarnya saya memiliki pilihan. Saya bisa meminta peserta didik tersebut keluar dari kelas, memberikan konsekuensi atas sikapnya, atau memilih untuk tidak menggubrisnya dan melanjutkan pembelajaran. Namun, saya memilih untuk menahan diri. Saya tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi pertentangan di dalam kelas. Meski demikian, persoalan itu ternyata tidak selesai bagi saya.

Setelah peristiwa tersebut, saya merasakan ada jarak dalam relasi saya dengan peserta didik itu. Saya terus memikirkannya. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak ingin sekadar menyelesaikan persoalan perilaku di dalam kelas. Saya ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, saya meminta bantuan seorang konselor yang memiliki relasi cukup dekat dengan peserta didik tersebut untuk memediasi kami.

Dalam proses mediasi itu, saya mengetahui bahwa dibalik kemarahannya terdapat pengalaman yang berat dalam relasinya dengan sang ayah. Teguran yang saya maksudkan sebagai bagian dari tanggungjawab seorang guru ternyata diterima melalui pengalaman hidup yang berbeda. Bagi peserta didik tersebut, saya mungkin tidak lagi sekadar hadir sebagai guru yang sedang menegur, tetapi sebagai sosok yang mengingatkannya pada pengalaman yang pernah melukainya.

Pertemuan itu mengubah cara saya memandang peristiwa yang sebelumnya saya anggap sebagai persoalan kedisiplinan. Saya memilih untuk meminta maaf kepadanya. Dalam suasana yang penuh emosi, saya memeluknya sambil menangis. Pelukan itu bukan berarti saya  membenarkan perilakunya. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal: saya tidak membencinya. Teguran yang saya berikan tidak menghapus kasih dan penghargaan saya kepadanya sebagai seorang pribadi.

Sejak saat itu, saya mulai menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar: seorang guru tidak pernah hanya berhadapan dengan seorang murid yang membawa buku dan tugas ke dalam kelas. Ia berhadapan dengan seorang manusia yang datang membawa cerita, pengalaman, pergumulan, harapan, dan kehidupan yang tidak selalu terlihat. Kesadaran itu membawa saya pada sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi pergumulan dalam perjalanan saya sebagai seorang pendidik: untuk kehidupan apa sebenarnya seorang guru mendidik?

II. Pendidikan Kristen: Dari Pengetahuan menuju Kehidupan

Pertanyaan tentang untuk kehidupan apa seorang guru mendidik, membawa saya pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa sebenarnya pendidikan Kristen diselenggarakan?.

Dalam praktik pendidikan, keberhasilan pendidikan tidak jarang tampak melalui pencapaian yang mudah diamati; nilai yang diperoleh, pengetahuan yang dikuasai, atau kemampuan peserta didik menyelesaikan tuntutan pembelajaran. Semua itu tentu penting. Namun, jika pendidikan Kristen hanya berhenti pada apa yang diketahui peserta didik, kita perlu kembali bertanya: manusia seperti apa yang sedang dibentuk melalui pendidikan tersebut, dan untuk kehidupan seperti apa ia sedang dipersiapkan?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pendidikan, bagi Wolterstorff, seharusnya memiliki signifikansi bagi kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar di sekolah tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi tuntutan akademik, tetapi perlu menjadi pengalaman yang memiliki manfaat dan makna bagi kehidupan mereka.

Dalam konteks pendidikan Kristen, orientasi tersebut tampak dalam tujuan untuk memperlengkapi peserta didik menjalankan panggilannya dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah, melayani sesama dan mengupayakan shalom, serta menghadirkan kesaksian tentang kehidupan baru yang ditemukan dalam Yesus Kristus (Wolterstorff, 2014, hlm. 8–9; 52–53).

Pendidikan Kristen memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan keagamaan. David Tong dalam seminarnya memberikan gambaran yang membantu memahami tujuan Pendidikan Kristen melalui ilustrasi segitiga sama sisi: Sisi pertama menggambarkan bahan ajar yang dibangun berdasarkan biblical perspective; sisi Kedua menggambarkan diri manusia yang memahami eksistensinya sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah; sedangkan sisi Ketiga menggambarkan panggilan untuk menjalankan misi di dunia milik Allah.

Ketiga sisi tersebut, ketika dikembangkan dalam bangunan tiga dimensi, berpusat kepada Allah sebagai pusat dari keseluruhan proses pendidikan (David Tong, Seminar “Pendidikan Kristen di Era AI”, 1 Agustus 2026).

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Kristen tidak dapat dipersempit hanya pada persoalan apa yang dipelajari, tetapi juga perlu memperhatikan siapa yang sedang dibentuk dan untuk apa ia dipersiapkan. Pengetahuan tetap merupakan bagian penting dari pendidikan, tetapi pengetahuan bukanlah tujuan akhirnya.

Hal ini sejalan dengan Simamora, yang mengutip Andar Ismail, bahwa salah satu kekhasan sekolah Kristen terletak pada tersedianya ruang bagi pertumbuhan yang serasi antara perkembangan intelektual dan iman Kristen peserta didik (Simamora, 2021, hlm. 16).

Dengan demikian, pendidikan di sekolah Kristen tidak hanya berkaitan dengan penguasaan informasi dan pengetahuan, tetapi juga dengan pembentukan kepribadian yang membawa transformasi dalam diri peserta didik.

Pemahaman tersebut memperlihatkan bahwa unggul ilmu dan unggul iman tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua tujuan yang berjalan secara terpisah. Keduanya perlu bertumbuh secara terpadu dalam kehidupan peserta didik.

Pengetahuan menolong peserta didik memahami dunia yang dihadapinya, sementara iman memberikan arah dan orientasi dalam memahami serta menjalani dunia tersebut. Karena itu, pendidikan Kristen tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang mengetahui apa yang benar, tetapi juga menolong mereka memahami mengapa kebenaran itu penting, untuk apa pengetahuan tersebut digunakan, dan bagaimana kebenaran itu dihidupi dalam kehidupan nyata.

Hal yang sama terlihat dalam pembahasan Welikinsi mengenai tujuan pendidikan Kristen. Pendidikan Kristen berperan menolong pelajar menemukan identitas mereka sebagai orang percaya dan bertumbuh menuju kedewasaan iman dalam Kristus. Proses tersebut tidak hanya mencakup pengajaran mengenai Allah dan Alkitab, tetapi juga nilai moral dan etika, pengalaman pertumbuhan, pelayanan, dan misi (Welikinsi, 2024, hlm. 40).

Dengan kata lain, pendidikan Kristen berkaitan dengan pertanyaan tentang siapa diri peserta didik dan untuk apa ia menjalani kehidupannya. Bahkan, Welikinsi menegaskan bahwa pendidikan Kristen tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga memberikan landasan moral dan spiritual serta membimbing pelajar menemukan identitas dan tujuan hidup yang bermakna (Welikinsi, 2024, hlm. 49).

Di titik inilah dimensi karakter menjadi tidak terpisahkan dari pendidikan Kristen. Pengetahuan tentang kebaikan tidak dengan sendirinya menghasilkan kehidupan yang baik.

Daeli, dengan mengutip Megawangi, menjelaskan bahwa pembentukan karakter melibatkan proses knowing the good, loving the good, dan acting the good. Artinya, karakter tidak berhenti pada kemampuan mengetahui nilai yang benar, tetapi mencakup kemampuan mengasihi dan mewujudkan kebaikan tersebut dalam tindakan, sehingga menjadi kebiasaan dalam pikiran, hati, dan perbuatan.

Daeli juga menggambarkan Pendidikan Agama Kristen sebagai proses yang berlandaskan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan membimbing peserta didik bertumbuh dalam iman melalui pengajaran dan pengalaman (Daeli, 2022, hlm. 44-48).

Jika berbagai pemikiran tersebut dipertemukan, tampak bahwa ilmu, iman, dan karakter bukan tiga tujuan pendidikan yang berdiri sendiri, melainkan tiga dimensi yang perlu terintegrasi dalam pembentukan kehidupan peserta didik.

Ilmu menolong peserta didik memahami; iman memberi arah bagi apa yang dipahami; sedangkan karakter membuat apa yang diketahui dan diyakini itu hadir dalam cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menjalani panggilannya.

Pertanyaan tentang keberhasilan pendidikan Kristen akhirnya tidak cukup dijawab dengan pertanyaan, “Seberapa banyak yang sudah diketahui peserta didik?”. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Kehidupan seperti apa yang sedang dibentuk melalui apa yang mereka pelajari, percayai, dan lakukan?”.

Pendidikan Kristen seharusnya membawa peserta didik bukan hanya menjadi pribadi yang lebih berpengetahuan, tetapi juga bertumbuh dalam iman, memiliki karakter yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani, serta mampu menjalani kehidupannya sebagai panggilan untuk melayani Allah dan sesama.

Namun, tujuan yang begitu besar tidak akan terwujud hanya melalui kurikulum, buku teks, atau rumusan tujuan pembelajaran. Semua itu perlu hadir dalam pengalaman konkret peserta didik setiap hari. Di sinilah peran guru menjadi penting. Jika pendidikan Kristen pada akhirnya berbicara tentang pembentukan kehidupan, maka guru tidak mungkin hanya hadir sebagai penyampai pengetahuan.

Guru berhadapan dengan seorang manusia yang sedang bertumbuh, bergumul, membentuk identitas, mengambil keputusan, dan belajar menjalani imannya.

III. Guru: Pengajar atau Pembentuk Kehidupan?

Jika pendidikan Kristen tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan diarahkan pada pembentukan kehidupan peserta didik, maka pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menerjemahkan tujuan tersebut ke dalam pengalaman nyata peserta didik?. Jawabannya tidak cukup hanya menunjuk pada kurikulum, materi pembelajaran, atau sistem sekolah.

Di ruang kelas, guru menjadi salah satu pribadi yang paling dekat dengan proses tersebut. Melalui cara guru mengajar, menegur, mendengarkan, membimbing, dan memperlakukan peserta didik, nilai-nilai yang diajarkan memperoleh bentuk yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Guru Kristen tidak dapat dipahami hanya sebagai penyampai materi pembelajaran.

Gaungu menjelaskan beberapa peran guru Kristen dalam menolong murid belajar, yaitu sebagai gembala, motivator, penatalayan, dan sahabat. Keempat peran tersebut memperlihatkan bahwa tugas guru tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan akademik, tetapi juga dengan perhatian terhadap kondisi, kebutuhan, dan pertumbuhan peserta didik.

Sebagai penatalayan, misalnya, guru dituntut memperhatikan keadaan murid dan menciptakan suasana belajar yang nyaman, sedangkan sebagai sahabat guru membangun kedekatan yang membuat murid merasa diterima dan aman dalam proses pembelajaran (Gaungu, 2022, hlm. 97-99).

Dengan kata lain, guru Kristen mengajar bukan hanya melalui apa yang disampaikannya, tetapi juga melalui cara ia hadir bagi peserta didiknya. Materi pembelajaran dapat menjelaskan tentang kasih, pengampunan, kesabaran, dan tanggung jawab. Namun, peserta didik juga belajar mengenai nilai-nilai tersebut melalui pengalaman mereka ketika berhadapan dengan guru.

Pendidikan Kristen pada akhirnya tidak hanya berlangsung melalui apa yang dikatakan guru, tetapi juga melalui apa yang dialami peserta didik dalam relasi dengannya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Susanto dan Dwikristanto yang menempatkan guru Kristen sebagai pembimbing dalam pembentukan karakter siswa. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga membimbing peserta didik menjadi pribadi yang dewasa dan berkarakter.

Dalam proses tersebut, relasi guru dan siswa menjadi bagian penting. Guru didorong untuk menyediakan waktu bagi siswa, duduk bersama mereka, berbicara mengenai kehidupan dan relasi mereka dengan Tuhan, serta saling mendoakan (Susanto dan Dwikristanto, 2023, hlm. 9).

Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya berlangsung melalui penyampaian konsep moral, tetapi juga melalui relasi yang dibangun secara sengaja dan konsisten.

Relasi dalam pendidikan Kristen, bukan sekadar pelengkap untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman. Relasi dapat menjadi ruang tempat nilai-nilai yang diajarkan memperoleh bentuk yang konkret.

Kasih tidak hanya dibicarakan, tetapi dialami. Pengampunan tidak hanya  dijelaskan, tetapi dipraktikkan. Kerendahan hati tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi dapat terlihat ketika seorang guru berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada peserta didiknya.

Pemahaman tersebut membuat saya melihat kembali pengalaman yang saya ceritakan pada bagian awal tulisan ini. Peristiwa dengan seorang peserta didik tersebut menyadarkan saya bahwa respons seorang anak tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan perilaku yang tampak.

Ketika saya mengetahui pengalaman berat dalam relasinya dengan sang ayah, saya menyadari bahwa teguran yang bagi saya merupakan bagian dari disiplin kelas dapat dimaknai secara berbeda oleh seorang anak berdasarkan pengalaman hidup yang ia bawa. Dari sana saya belajar bahwa guru tidak hanya berhadapan dengan perilaku siswa, tetapi dengan pribadi yang memiliki cerita kehidupannya sendiri.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa membangun relasi tidak berarti mengabaikan disiplin atau membenarkan setiap perilaku peserta didik. Sebaliknya, relasi yang sehat memungkinkan guru menegur dengan tetap memandang peserta didik sebagai pribadi yang berharga.

Dalam konteks pendidikan Kristen, kasih tidak menghilangkan kebenaran, sebagaimana kebenaran tidak seharusnya kehilangan kasih.

Guru dipanggil untuk menolong peserta didik bertumbuh, bukan sekadar membuat mereka tunduk terhadap aturan. Di sinilah keteladanan guru menjadi penting.

Susanto dan Dwikristanto menegaskan bahwa guru Kristen sendiri perlu bertumbuh dalam karakter yang berlandaskan karakter Allah dan kebenaran Alkitab. Guru tidak cukup hanya mengajarkan nilai moral, tetapi perlu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari (Susanto dan Dwikristanto, 2023, hlm. 10).

Saya menyadari bahwa dalam pengalaman tersebut, meminta maaf kepada seorang peserta didik justru menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang tidak tertulis dalam materi pelajaran.

Saya tidak sedang menjelaskan definisi tentang kerendahan hati atau pengampunan; saya sedang mencoba mempraktikkannya. Pada titik itu, karakter guru menjadi bagian dari pesan pendidikan itu sendiri. Namun, menjadi teladan tidak berarti guru harus tampil sebagai manusia yang sempurna.

Susanto dan Dwikristanto mengingatkan bahwa guru Kristen juga merupakan pribadi yang terbatas dan berdosa serta membutuhkan relasi dengan Allah agar dimampukan menjalankan panggilannya dalam membimbing peserta didik (Susanto dan Dwikristanto, 2023, hlm. 10).

Kesadaran ini penting bagi pemahaman saya tentang panggilan sebagai guru. Guru Kristen tidak mendidik dari posisi sebagai manusia yang telah selesai dibentuk, melainkan sebagai pribadi yang juga sedang dibentuk oleh Kristus. Karena itu, keteladanan bukan berarti

tidak pernah melakukan kesalahan, justru dapat terlihat ketika seorang guru berani mengakui kesalahan, meminta maaf, mengampuni, belajar memahami, dan terus bertumbuh dalam karakter Kristus.

Guru Kristen dipanggil untuk menghadirkan kesatuan antara ilmu, iman, dan karakter. Ilmu memberikan kompetensi bagi guru untuk menjalankan tugas pengajarannya. Iman memberikan arah dan makna bagi panggilan tersebut. Karakter membuat iman dan pengetahuan itu terlihat dalam cara guru menjalani kehidupannya dan memperlakukan peserta didik. Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Guru yang mendidik untuk kehidupan bukan hanya guru yang mampu menjelaskan banyak hal, tetapi guru yang melalui kehidupan dan relasinya turut menolong peserta didik menemukan bagaimana pengetahuan, iman, dan karakter dijalani dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian, pertanyaan tentang guru sebagai pengajar atau pembentuk  kehidupan tidak harus dijawab dengan memilih salah satunya.

Guru Kristen memang mengajar, tetapi pengajarannya tidak berhenti pada pengetahuan. Ia mengajar dengan seluruh keberadaannya, dengan ilmu yang dimiliki, iman yang dihidupi, karakter yang diteladankan, dan relasi yang dibangun. Di situlah guru mengambil bagian dalam panggilan pendidikan Kristen: bukan menentukan akan menjadi apa peserta didiknya, tetapi setia menghadirkan proses pendidikan yang menolong mereka bertumbuh sebagai manusia yang utuh di hadapan Allah.

IV. Ketika Ilmu, Iman, dan Karakter menjadi Satu

Jika guru Kristen dipanggil untuk mendidik kehidupan, maka keunggulannya tidak cukup diukur dari seberapa baik ia menguasai materi pelajaran. Ilmu tetap penting, tetapi ilmu membutuhkan arah; iman memberikan arah tersebut, sementara karakter membuat apa yang diketahui dan diyakini menjadi nyata dalam kehidupan.

Karena itu, unggul ilmu, unggul iman, dan unggul karakter tidak seharusnya dipahami sebagai tiga kualitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan dalam kehidupan seorang guru.

Guru yang unggul ilmu bukan sekadar guru yang mampu menyampaikan pengetahuan dengan baik. Pengetahuan perlu memiliki makna bagi kehidupan peserta didik. Wolterstorff menekankan bahwa pengalaman belajar di sekolah seharusnya memiliki signifikansi bagi kehidupan mereka.

Pertanyaan tidak berhenti pada “apa yang harus diketahui murid?”, tetapi “untuk apa pengetahuan ini digunakan dalam kehidupan?”

Pemahaman tersebut terlihat dalam pengalaman Bu Marta. Baginya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui nilai akademik, tetapi juga melalui bagaimana peserta didik membawa apa yang dipelajarinya ke dalam kehidupan. Ia berharap peserta didik mampu menggunakan talenta yang Tuhan berikan untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama.

Dengan demikian, ilmu menjadi sarana untuk menolong peserta didik bertumbuh, bukan tujuan akhir pendidikan. Jika ilmu menjawab apa yang dipelajari, iman menolong guru menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa saya mendidik?.

Wolterstorff memandang pendidikan Kristen sebagai proses yang mempersiapkan peserta didik menjalankan panggilan, bekerja bagi shalom, dan memberikan kesaksian melalui kehidupan baru di dalam Kristus. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan seseorang mencapai keberhasilan pribadi, tetapi menolongnya memahami kehidupan sebagai bagian dari panggilan Tuhan.

Bu Marta melihat tujuan mendidik dengan cara yang serupa. Guru, menurutnya, perlu mempersiapkan peserta didik untuk masa depan dan menolong mereka memahami bahwa setiap anak memiliki talenta yang dapat digunakan melalui profesi dan panggilannya masing-masing untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan.

Dengan demikian, iman memberikan arah bagi ilmu. Guru Kristen tidak hanya bertanya apakah peserta didiknya menjadi pintar, tetapi juga apakah pengetahuan tersebut menolong mereka memahami siapa diri mereka di hadapan Tuhan dan untuk apa kehidupan itu dijalani.

Namun, ilmu dan iman belum cukup apabila tidak terlihat dalam karakter. Guru dapat mengajarkan kasih, tanggung jawab, pengampunan, dan kepedulian, tetapi peserta didik juga belajar melalui cara guru memperlakukan mereka. Gaungu (2022) menempatkan guru Kristen sebagai gembala, motivator, penatalayan, dan sahabat yang membimbing peserta didik dengan kasih.

Susanto dan Dwikristanto juga menekankan guru sebagai teladan dalam pembentukan karakter. Hal tersebut terlihat dalam kesaksian Pascal. Ketika ditanya apa yang paling ia ingat dari guru yang berkesan setelah meninggalkan sekolah, ia tidak terutama mengingat materi pelajaran, tetapi cara guru tersebut memperlakukannya. Dari pengalaman itu, ia belajar memperlakukan orang lain dengan baik.

Kesaksian ini membuat saya menyadari bahwa karakter guru merupakan bagian dari kurikulum yang tidak tertulis. Peserta didik mungkin melupakan sebagian materi, tetapi pengalaman ketika mereka diperlakukan dengan kasih, dihargai, ditegur, dan diberi kesempatan untuk berubah dapat tinggal lebih lama dalam kehidupan mereka.

Pada akhirnya, ilmu, iman, dan karakter membutuhkan ruang untuk bertemu. Ruang itu adalah relasi. Bu Marta menggunakan satu kata sederhana ketika berbicara mengenai hal yang dibutuhkan guru pada zaman sekarang, yaitu hati. Teknologi dapat membantu menyampaikan materi, tetapi hanya guru yang memiliki hati dimampukan untuk mengasihi, memahami, berproses, dan merangkul peserta didik.

Dari sisi peserta didik, Pascal melihat perbedaan antara guru yang hanya mengajar materi dan guru yang mendidik kehidupan. Menurutnya, guru yang mendidik kehidupan memiliki koneksi dengan peserta didik dan memperhatikan kehidupan mereka. Bahkan setelah seorang murid meninggalkan sekolah, relasi tersebut tetap dapat memiliki makna.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa relasi bukan sekadar pelengkap dalam pendidikan Kristen. Relasi menjadi ruang tempat ilmu, iman, dan karakter dialami oleh peserta didik.

Di dalam relasi, murid tidak hanya mendengar apa yang guru katakan, tetapi mengalami bagaimana pengetahuan digunakan, bagaimana iman dihidupi, dan bagaimana karakter diwujudkan. Oleh karena itu, saya semakin memahami bahwa menjadi guru Kristen yang unggul bukan berarti menjadi guru yang sempurna. Guru Kristen adalah pribadi yang terus belajar menyatukan apa yang diketahuinya, apa yang diyakininya, dan bagaimana ia menjalani kehidupannya di hadapan peserta didik.

Ilmu memberikan kompetensi, iman memberikan arah, karakter memberikan kesaksian, dan relasi membuat ketiganya dapat dialami.

V. Untuk Kehidupan Apa Guru Mendidik?

Pada akhirnya, pertanyaan “untuk kehidupan apa guru mendidik?” membawa saya kembali kepada pengalaman yang mengawali tulisan ini. Saya pernah melihat seorang murid hanya dari perilakunya, sampai akhirnya saya menyadari bahwa di balik perilaku tersebut ada kehidupan yang sedang diperjuangkan.

Perjumpaan itu mengubah cara saya memandang tugas sebagai guru. Saya belajar bahwa mendidik berarti bersedia melihat peserta didik bukan sekadar sebagai pribadi yang perlu diajar, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan membutuhkan pendampingan.

Oleh karena itu, guru Kristen tidak mendidik hanya untuk membuat peserta didik tahu lebih banyak, memperoleh nilai yang baik, atau berhasil memasuki dunia kerja.

Guru mendidik untuk kehidupan yang mengenal Tuhan, memahami panggilannya, menggunakan pengetahuan bagi kebaikan sesama, dan menghadirkan karakter Kristus dalam kehidupan nyata. Inilah kehidupan yang hendak dibentuk melalui integrasi ilmu, iman, dan karakter.

Maka, untuk kehidupan seperti itulah guru Kristen dipanggil mendidik: kehidupan yang tidak berhenti pada keberhasilan di sekolah, tetapi terus bertumbuh untuk menjalani panggilan Tuhan dan menjadi berkat bagi dunia. (LKT – 26 – 010)

==================================

DAFTAR PUSTAKA

Buku Wolterstorff, Nicholas P. (2014). Mendidik untuk Kehidupan. Surabaya: Penerbit Momentum.

Jurnal Ilmiah; Daeli, Ayuni Damai. (2022). Pengaruh Pendidikan Agama Kristen di Sekolah dalam Membangun Karakter Anak Remaja SMP dan SMA. Inculco Journal of Christian Education, 2(1), 43-53.

Gaungu, Yunita Rambu Mina. (2022). Peran Guru Kristen dalam Menolong Murid Belajar pada Kelas 2 Sekolah Dasar di Lubuklinggau. Aletheia Christian Educators Journal, 3(2), 96-107.

Simamora, Nenny N. (2014). Hakikat dan Tujuan Sekolah Kristen. Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan), 4(1), 1-23.

Susanto, Evelyn dan Yanuard P. Dwikristanto. (2023). Peran Guru Kristen sebagai Pembimbing dalam Pembentukan Karakter pada Era Digital: Suatu Tinjauan Metafisika. Kairos: Jurnal Ilmiah, 3(1),1-17.

Welikinsi. (2024). Peran Pendidikan Kristen dalam Membentuk Identitas dan Tujuan Hidup dalam Upaya Mengatasi Krisis Spiritual di Kalangan Pelajar. Proceeding Nat

 

Exit mobile version