Bona Taon Pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan; “Jangan Ingkari Tarombo”

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – BERTEMPAT di Hotel Acacia, jalan Keramat Raya 81, Jakarta Pusat, untuk pertama kalinya Punguan (perkumpulan) Pomparan (Keturunan) Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan Se-Jabodetabek menggelar Bona Taon (Ibadah Awal Tahun). Di acara itu, selain mempertegas Tarombo pomparan juga mengimbau agar semua keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan jangan mengingkari tarombonya.

“Masih banyak dongan tubu ta (Saudara semarga) Panjaitan tidak mengakui opung ta (Kakek buyut kita) Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan anak dari Raja Situngo Panjaitan (Anak dari Raja Panjaitan). Sedihnya bahkan masih banyak keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan yang mengingkarinya. Hal itu karena ketidaktahuannya akan tarombo dan akibat lama beredar tarombo versi Pengurus Panjaitan Marsada yang terbit pada Tahun 1972 yang tidak mencantumkan kakek buyut kita,” terang Ketua Panitia Pembangunan Tugu Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan, Brigjend (Pol) Jhon Turman Panjaitan dalam paparannya di acara itu, Minggu (19/01/2020).

Dikatakan Turman, Pembangunan Tugu Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan memang telah usai dan diresmikan pada awal November 2019. Namun demikian, kata dia, penegasan tentang Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan sebagai cucu asli dari si Raja Panjaitan tidak berhenti sampai di situ.

“Pertayaannya kepada kita, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?. Menurut saya, setelah pembangunan tugu dan perumusan tarombo (silsilah garis keturunan).  kita harus membentuk kepengurusan keluarga besar Pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan dan kaderisasi,” imbau Kepala BNN Provinsi Sumatera Selatan ini.

Lanjut Turman, tidak semua kebenaran dapat diterima, penolakan akan keberadaan keturunan Panjaitan dari Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman akan tetap ada. Namun hal tersebut adalah hal yang biasa dan harus disikapi dengan bijak.

“Kita harus berani menyatakan identitas kita. Seperti khotbah yang tadi disampaikan Pdt, Darwin Panjaitan tentang Yesus yang adalah Tuhan dan Juru selamat hingga kini masih terjadi penolakan. Begitu pula dengan sejarah bangsa Israel yang keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan yang merupakan tanah yang diberikan Tuhan sabagai tanah perjanjian hingga kini masih terjadi penolakan,” kata lulusan Akpol Tahun 1987 ini.

Bona Taon Punguan (perkumpulan) Pomparan (Keturunan) Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan Se-Jabodetabek diawali dengan ibadah syukur. Renungan firman Tuhan dibawakan oleh Pdt, Gunawan Panjaitan, S.Th, M.SAi (Pendeta Ressort HKBP Tangerang Kota). Dalam khotbahnya, Pdt, Gunawan Panjaitan mengisahkan tentang perjalan hidup Tuhan Yesus dan Bangsa Israel yang mendapat penolakan hingga sekarang ini karena kebenaran dan keyakinannya.

Sementara, Ketua Panitia Bona Taon Pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan Se-Jabodetabek, Drs, Oscar Panjaitan menjelaskan, ini adalah kali pertama digelarnya bona taon pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan Se-Jabodetabek dan dipersiapkan hanya dalam waktu 1 minggu.

“Terima kasih untuk sekretaris panitia (Parulian Panjaitan) yang sudah bekerja keras untuk terlaksananya acara ini. Memang undangan kita batasi, tahun depan kita bisa bikin lagi acara ini yang lebih besar lagi tempat dan undangannya. Mohon maaf bila ada kekurangan,” kata Oscar.

Bona Taon Pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan Se-Jabodetabek dihadiri oleh 200 undangan yang diedarkan panitia. Meski begitu, ruangan tempat digelarnya acara tersebut tampak penuh sesak. Panitia dan tua-tua Panjaitan Pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan yakin keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan di Jabodetabek ada banyak sekali.

“Bisa 5 atau 6 kali lipat dari yang hadir sekarang ini. Menurut data yang saya peroleh, ada 700 KK (Keluarga) Panjaitan keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan di Jabodetabek, itu belum termasuk mereka-mereka yang mengingkari tarombonya, masih mengaku Panjaitan dari keturunan opung yang lain,” terang Oscar.

Sebetulnya, kumpulan keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan di Jakarta sudah ada sejak 14 tahun lalu. Kumpulan tersebut diketuai oleh Tigor Panjaitan, S.E. Turman lantas memperkenalkan Tigor kepada hadirin di acara Bona Taon tersebut.

“Ini Ketua kita di Jakarta. Saat saya berhadapan dengan pengurus Panjaitan nabolon (perkumpulan seluruh marga Panjaitan se-dunia), mereka pertanyankan keberadaan perkumpulan opung kita di Jakarta yang mereka kira tidak ada. ‘Ini Ketua kami di Jakarta’ (memperkenalkan Tigor) tegas saya di hadapan mereka,” ungkap Turman.

Dalam kesempatannya, Ketua Punguan keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan DKI Jakarta, Tigor Panjaitan menjelaskan, bahwa perkumpulan tersebut berdiri sejak tahun 2004. Meski hanya diikuti 3 KK, seiring berjalannya waktu terus bertambah. Hal tersebut tidak lepas dari kegigihan Tigor mendatangi (door to door) setiap keluarga Panjaitan yang dia yakini sebagai keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan.

“Memang kami memakai nama opung Sanggak Nai Borngin anak dari Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan. Saya ketahui tarombo saya saat pulang ke Siantar. Kepada punguan Panjaitan nabolon saya protes dan tegaskan bahwa opung kami ada dan jangan dihilangkan dari tarombo yang mereka terbitkan,” terang Tigor.

Di Bona Taon tersebut dipaparkan tarombo keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan. Atas dasar bukti-bukti dokumen (lebih tua dari yang diempunya pengurus Panjaitan Marsada) dan fakta sejarah yang ada hingga kini, pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan membangun tugu sebagai wujud deklarasi dan pengakuan.

“Itu Tugu Raja Panjaitan di Balige sendiri dibangun di atas tanah milik keluarga keturunan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan. Bisa dibuktikan, keluarga yang tinggal di sekitaran tugu tersebut adalah pomparan Silundu Ni Pahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan,” kata M. Panjaitan dalam kesaksiannya sebagai anak dari sang pemilik tanah tersebut. (ARP)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan