Sang “Nabi Bisu” Itu Telah Pergi, PGI Berduka

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – SEGENAP keluarga besar Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tengah berduka. Sang “Nabi Bisu” itu telah pergi ke rumah Bapa di Surga. Begitu ungkapan yang keluar dari Ketua Umum PGI 2019-2024, Pdt, Gomar Gultom, M.Th

Ketua Umum PGI pada 1987 hingga 2001, Pdt, Dr Solarso Sopater, dijuluki sebagai “Nabi Bisu” karena  tidak banyak bicara tapi banyak berkarya.

“Saya menilai beliau sebagai seorang Pemimpin yang kebapakan. Beliau menghargai setiap orang sebagai pribadi yang utuh, tidak sungkan untuk menyapa terlebih dahulu, dan selalu siap untuk menolong. Tidak banyak bicara tapi banyak berkarya. Itu sebabnya beliau dijuluki sebagai Nabi Bisu,” kata Ketua Umum PGI, Pdt, Gomar Gultom melalui pesan ShatsApp-nya kepada majalahspektrum.com, Jumat (26/6/2020).

Dalam buku Biografi Sularso berjudul “Nabi Bisu” yang Banyak Bekerja (2014), Sularso disebut sebagai sosok yang unik. Kehidupannya telah melintasi zaman perang kemerdekaan kemudian aktif dalam pemerintahan Presiden Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri sebagai anggota MPR, DPA, Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Wadah Musyawarah Antar-Umat Beragama (WMAUB), dan Panwaspus Pemilu.

Dalam riwayat perjalanannya di PGI, menurut Gomar Gultom, Sularso terpilih secara mendadak sebagai Ketum PGI karena menggantikan Pdt Dr SAE Nababan yang mengundurkan diri karena terpilih menjadi Ephorus HKBP.

“Beliau juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPA RI) periode 1993-2003 dan anggota MPR RI pada 1987,” terang Gomar.

Meninggalkan 3 anak dan 6 cucu, Sularso Sopater Lahir 9 Mei 1934 di Yogyakarta dan meninggal Jumat 26 Juni 2020 sore, pukul 18.47 karena gagal ginjal dan gangguan jantung. Beliau meraih gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan AS, 1975, dan Doktor dari STT Jakarta dan pernah juga menjadi Rektor STT Jakarta.

Mantan ketua sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) ini pernah disangka memberi Emas kepada Presiden Soeharto atas nama PGI. Akibat tudingan salah tersebut, Sularso sempat dipergunjingkan banyak orang sebagai “Orang Majus Memberi Emas ke Herodes”.

Padahal waktu itu, sebagai Ketua PGI, Sularso mendampingi Dirjen Bimas Kristen dan anggota rombongan datang ke Cendana untuk mendoakan  Presiden Soeharto. Usai didoakan, seorang pengusaha Kristen, Titus Kurniadi menyorongkan sumbangan berupa emas dan uang. Cilakanya, badan Titus tak tampak dalam kamera televise, tetapi hanya tangannya Sularso saja.

Dari potongan gambar tersebut segera tersiar kabar, atau orang mengambil kesimpulan bahwa Pak Larso atas nama PGI bersekutu dengan Soeharto. Yang sedang dimaki di mana-mana dan diteriaki pemeras rakyat.

Gara-gara peristiwa tersebut, Sularso didemo dan diminta turun sebagai Ketum PGI. Ia dicap sebagai orang Majus yg tersesat.

Bulan April 2016, Pak Larso meluncurkan memoarnya: “Sularso Sopater, Kukuh di Jalan Ibu”.  Salah satu bab di dalam buku ini berisi penjelasan Pak Larso tentang peristiwa itu. Sangat detail.  Di buku itu, Sularso menyebut nama Pdt. Em. Weinata Sairin (Wasekum PGI saat itu) sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya orang yang ikut membela dia.  “Pak Larso tdk bersalah,” seru Weinata. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan