Kata Dr, Jose Silitonga Soal Kedatangan PGI ke Kediaman JK

Jakarta, majalahspektrum.com – PEMERHATI Gereja yang juga Advokat senior, Dr, Jose Silitonga, S.H, M.H mengatakan kedatangan PGI ke rumah mantan Wapres H.Jusuf Kala (JK) terkait masalah pro kontra ceramah Ramadhan JK di kampus UGM yang menyinggung doktrin agama Kristen sungguh tidak elok dan salah langkah.

“Tri Tugas Panggilan Gereja adalah Koinonia, Marturia dan Diakonia. Kedatangan PGI ke rumah JK dianggap Diakonia tetapi itu multi tafsir. Ketua PGI itu mewakili Gereja-gereja se-Indonesia, mestinya tanya dahulu ke warga gereja setuju tidak PGI ke rumah JK?. seorang pemimpin harusnya bijak, evaluasi dulu, bisa tidak, elok tidak saya ke sana (rumah JK). Mungkin sah-sah saja dia ke sana tetapi Unek-unek orang harus dilihat juga,” kata Jose saat ditemui di kawasan Jl.Pemuda, Jakarta, Sabtu (25/05/2026).

Menurut Dewan Penasehat Persatuan Sarjana Kristiani Indonesia (PERSAKI) ini, banyak hal yang lebih penting yang harus diurus, lebih diperhatikan PGI daripada persoalan JK.

“Dari dulu PGI tidak tuntaskan soal SKB 2 Menteri. Kemana, dimana PGI saat gereja ditutup, dibakar, hak beribadah umat kristiani dirampas? Hadirkah PGI di sana?,” seru Jose.

Terkait pernyataan Ketum PGI bahwa pernyataan JK dalam vidii dipenggal-penggal yang membuat kesalahpahaman, dimana JK dituduh menista ajaran Kristiani, menurut Jose hal itu tidak bisa juga dikatakan benar.

“Belum ada kepastian hukum belum bisa dikatakan bahwa itu benar, belum berproses hukum, pun vidio yang dipenggal belum tentu benar,” jelasnya.

Jose sangat menyayangkan sikap dan statemen ketum PGI di rumah JK. Terkesan membela seolah-olah benar JK tidak bersalah padahal belum ada kepastian hukum.

“Banyak hal yang jauh lebih penting untuk mengurusi nasib gereja dan umat kristiani ketimbang masalah JK. Lihat levelnyalah, mana lebih pantas PGI ke rumah JK, atau JK yang mendatangi PGI,” tukas Jose.

Lanjut Jose, soal permasalahan hukum, jangan karena pembesar, punya kedudukan, status sosial tinggi bisa dipermaikan tetapi kalau orang kecil langsung diciduk.

“Kalo orang pembesar bisa mengelak dengan alasan dieditlah, dipotonglah dan lainnya, Tanda kutip, bukan menuduh, kalo orang besar hukum bisa dipermainkan tetapi kalau orang kecil langsung diciduk,” ungkapnya.

Lagi menurut Jose, harusnya PGI meminta klarifikasi dahulu melalui surat resmi ke JK, dan klarifikasi JK itulah yang disampaikan ke umat, bukan membenarkan bahkan terkesan mendukung Pembenaran JK karena faktanya belum ada proses hukum.

“Memang orang kalau sudah dapat jabatan dan kedudukan jadi lupa tugas utama, lebih suka seremonial dan pencitraan. masalah krusial tentang SKB 2 Menteri dari tahun 2006, pembakaran gereja sudah tuntas belum, itu jauh lebih penting,” kata Jose.

Kemudian, soal istilah mati syahid dan martir, menurut Jose itu hal berbeda. Mati martir bagi umat kristiani adalah mati karena mempertahankan iman, bukan karena perang saling saling bunuh.

“Harusnya PGI memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang apa itu mati martir bagi orang kristen. menurut saya Stefanus adalah orang pertama mati martir, ia dilempari batu sampai mati karena mempertahankan imannya. Yesus datang mengajarkan Kasih yang tak terbatas, ingat peristiwa saat murid Yesus memenggal telinga prajurit yang ingin menangkap Yesus? saat itu Yesus malah membuat mujizat dengan menyatukan kembali telinga si prajurit,” jelasnya.

Kembali soal kedatangan Ketum PGI ke rumah JK, Jose menegaskan konteks diakonia, bahwa diakonia menurutnya adalah sebuah kunjungan pelayanan untuk menolong.

“Presiden USA, George Bush saat akan membuat kebijakan dia mendatangi Rohaniawan loh. Kalo katanya kedatangan PGI ke rumah JK dalam rangka Diakonia, lalu diakoniakah PGI soal masalah GKI Yasmin Pekanbaru dan lainnya. bukan hanya gereja anggota PGI saja loh PGI harus hadir saat ada peristiwa penganiayaan gereja dan umat kristiani,” tandasnya. (ARP)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*