Gereja Pribadi VS Gereja Jemaat

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – SEKARANG ini, gereja dapat dikategorikan dalam 2 jenis yakni; Gereja milik Pribadi dan gereja milik jemaat. Apa bedanya?.

Di kalangan masyarakat Kristen, gereja yang merupakan “Milik Jemaat” disebut sebagai gereja mainstream, sedangan yang “Bukan Milik Jemaat”disebut gereja kharismatik. Dalam gereja mainstream, umumnya anggota jemaat terdata, anggota keluarga serta alamat rumahnya (ada nomor induk). Kepada anggota jemaat, selain kolekte (persembahan), dipungut iuran anggota bulanan atau tahunan yang jumlahnya, ada yang ditetapkan besarannya berdasarkan rapat, ada yang berbentuk sukarela.

Umumnya di gereja mainstream setiap uang yang keluar dan masuk dilaporkan ke jemaat dalam warta jemaat minggu. Pengurus (majelis) dan Pendeta di gereja ditentukan atau dipilih ataupun karena penugasan. Pendeta sebagai pimpinan gereja mendapatkan gaji untuk tunjangan hidupnya dan keluarga oleh dan melalui system administrasi gereja dan ada masa pensiun yang telah ditentukan.

Di gereja kharismatik, pada umumnya tidak ada pendataan anggota jemaat. yang terdata. Gerejanya pun dibangun dan menjadi milik si Pendeta yang dikenal dengan nama “Gembala Sidang Jemaat”. Di gereja jenis ini, umumnya tidak ada laporan keuangan (masuk dan keluar uang) karena semua pemasukan yang berasal dari kolekte (persembahan) maupun perpuluhan diserahkan dan dipertanggungjawabkan kepada si Gembala Sidang.

Majelis atau penatua di gereja kharismatik dipilih oleh gembala sidang. Gembala siding tidak digaji melalui dan oleh system administrasi karena semua hasil kolekte menjadi hak sang pemilik gereja atau gembala sidang.

Memang, Jika kita bertanya kepada para pendeta atau gembala sidang gereja tersebut, pastilah mereka akan berkata “Gereja Milik Tuhan”, Yesus adalah kepalanya. Hmmm,,, rohani sekali bahasanya. Namun nyatanya, mereka akan pusing 7 keliling jika gereja tidak mendapatkan uang hasil kolekte seperti yang diharapkan. Dan tidak jarang gereja ditutup karena pemasukan dari kolekte lebih kecil dari beban pengeluaran.

Jadi tidak heran jika ada gereja yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah atau lembaga kesatuan gereja untuk tidak menggelar ibadah minggu karena wabah virus Corona yang sedang merebak saat ini. Pasalnya, jika hal itu dilakukan maka hilanglah penghasilan atau pendapatan sang pemilik gereja. Alasan rohani yang kelihatannya Alkitabiah pun dibuat untuk pembenaran.

Tidak jarang juga ada aksi rebutan jemaat, saling menjelek-jelekan gereja saingan yang tujuan utama sebenarnya adalah; Jemaat = Omset. Untuk gembala sidang yang bermotivasi demikian,  (jemaat=Omset) bias dikata, gereja telah berubah fungsi menjadi “Usaha Bisnis”, Perusahaan bergerak di bidang rohani berbentuk gereja.

Gembala Sidang yang merupakan pemilik gereja lantas membuka cabang gereja dimana-mana mirip took ritail. Mulai menetapkan target pemasukan lewat persembahan kepada pendeta yang ditugaskan sebagai penanggungjawab gereja cabangnya. Untuk menambah pemasukannya, tak jarang mereka menjual berbagai bentuk produk untuk dijual ke jemaatnya (market pasti). Ada yang jualan asuransi, buku, CD lagu, perjalanan wisata rohani, bahkan main saham.

Maraknya aksi penutupan gereja oleh sekelompok massa dengan alasan kristenisasi dan Perber 2 Menteri juga akibat maraknya gereja sebagai milik pribadi. Tudingan kristenisasi karena menilai pertumbuhan gereja berkembang pesat karena banyak yang pindah agama (murtad), padahal sebenarnya, jumlah gereja pesat bertambah tetapi jemaat tidak karena jemaatnya itu-itu saja (eksodus jemaat gereja ke gereja lainnya).

Gereja milik pribadi akan berusaha untuk menarik jemaat sebanyak-banyaknya karena berkaitan dengan pemasukan melalui persembahan (kolekte). Bahkan ada pendeta yang mendoktrin jemaatnya wajib kasih perpuluhan dan “Buah Sulung” agar pemasukan meningkat. Hehehe… bisnis rohani memang menggiurkan.

Berbagai fasilitas nyaman dan program pun ditawarkan (promosi /marketing) agar semakin banyak umat beribadah dan menjadi jemaat di gerejanya. Mirisnya, banyak gereja jenis ini yang tidak melakukan “Tri Tugas Panggilan Gereja”, khususnya soal Diakonia. Diakonia adalah kegiatan social gereja dimana kas gereja keluar untuk membantu mereka, jemaat ataupaun non jemaat yang berkesusahan atau tidak mampu.

Jadi wajar sajalah jika gereja jenis ini, gembala sidangnya hidup glamor. Anaknya sekolah di luar negeri, hidup ekslusiv, susah ditemui (lebih mudah ketemu Pejabat Negara), karena banyak uang dari hasil kolekte atau persembahan jemaatnya. Jadi jangan heran kalau ada gereja jenis ini yang meniadakan sementara ibadah minggu meski telah diimbau pemerintah ataupun lembaga gereja, karena tak ibadah sama dengan kehilangan omzet. (ARP)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan