Kabupaten Mamasa Mayoritas Kristen Namun Kerap Dipimpin Muslim. Kaya SDA Namun Seperti Terisolir

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – KABUPATEN Mamasa, provinsi Sulawesi Barat lahir pada, 10 April 2002 berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2002 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Polewali Mamasa, Sulawesi Selatan seiring pemekaran terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat.

Kabupaten Mamasa terdiri dari 17 kecamatan, 13 kelurahan, dan 168 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 203.599 jiwa dengan luas wilayah 3.005,88 km² dan sebaran penduduk 68 jiwa/km

Dapat ditempuh sekitar 6 jam dengan menggunakan mobil dari Kota Parepare, pusat kawasan pengembangan ekonomi terpadu di Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 190 km. Mamasa merupakan etnis terbesar suku Toraja yang berada di Sulawesi Barat, sekaligus menjadi pusat kekuatan mistik suku Toraja. Pada tahun 2021, penduduk kabupaten Mamasa berjumlah 163.870 jiwa

Keindahan alam Mamasa yang memiliki Air terjun terindah kedua di dunia ini bisa menjadi daerah destinasi pariwisata unggul di Sulawesi Barat, sayangnya keunggulan itu tidak diberdayakan oleh pemerintah setempat.

Kabupaten Mamasa memiliki keberagaman Suku, Agama, Ras dan Adat Istiadat dimana berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri 2021 mayoritas penduduk Mamasa beragama Kristen yakni 78,22% (Protestan  75,16% dan Katolik sebanyak 3,06%). Sementara pemeluk agama Islam (muslim) yang kebanyakan suku Bugis-Makasar sebanyak 17,07%, kemudian Hindu sekitar 1,47%, dan penduduk Mamasa yang masih menganut kepercayaan khususnya [Mappurondo]sebanyak 3,24%, Untuk rumah ibadah, terdapat 646 bagunan gereja Protestan, 75 bangunan gereja Katolik, 104 bangunan masjid, 19 bangunan musholah dan 26 bangunan Pura.

Meski mayoritas kristen, Kabupaten Mamasa kerap dipimpin Bupati muslim yakni; M. Said Sagaf (2002-2008) dan Ramlan Badawi (sejak 2011 hingga sekarang). Meski memiliki Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, namun daerah ini seperti terisolir. Potensi SDA-nya ridak diberdayakan secara maksimal.

Kabupaten Mamasa merupakan destinasi utama Pariwisata di Provinsi Sulawesi Barat.  Kabupaten Mamasa memiliki beberapa objek wisata, yaitu Wisata Budaya Kuburan Tedong-tedong di Kecamatan Balla, Minanga di Sesenapadang, Wisata Alam Air Terjun Sarambu, Permandian Air Panas di Desa Rambusaratu’ Kecamatan Mamasa,wisata alam air terjun Sambabo dengan ketinggian +/- 100 meter di kecamatan Bambang Agro Wisata Perkebunan Markisa di Kecamatan Mamasa, Wisata Budaya Rumah Adat, Perkampungan Tradisional Desa Ballapeu, Tradisi Mebaba’ dan Mangngaro di Nosu merupakan tradisi yang unik.

Dari hasil perkebunan, selain Kakao, hasil perkebunan yang umumnya dikelola secara tradisional, yang paling menonjol di Kabupaten Mamasa adalah Kopi. Kopi Toraja yang terkenal itu berasal dari daerah ini.

Kondisi Mamasa saat ini menurut Agus Butarbutar sangat memprihatinkan. Kaya SDA tetapi seperti daerah yang terisolir.

Baca Juga : (Prihatin Dengan Mamasa, Agus Butarbutar Bacabup Independen 2024 Yang Didukung Warga Lokal dan Gereja)

“Sinyal Handphone susah, mesti ke tengah kota, listrik sering mati, jalan-jalan banyak yang rusak, berlumpur dan berair. Pasar-pasar kosong karena salah tempat. Bandara yang baru saja dibangun malah sekarang ditutup tak difungsikan,” terang Agus pemilik Rumah Makan Abbjud di kota Makasar  yang juga saeorang Advokat ini, Minggu (17/7/2022) malam kepada majalahspektrum.com.

Infrastruktur amburadul tak mendukung perekonomian masyarakat

 

Atas kondisi itu dan adanya permintaan dari masyarakat lokal serta warga gereja, Agus berencana akan maju sebagai Calon Bupati Mamasa dari jalur independen atau perseorangan.

“Keinginan warga di sana (Mamasa), ada istilah ;Lebih baik orang luar (bukan suku asli mayoritas) namun kristen untuk memimpin Mamasa. Hal itu karena pemimpin sebelumnya telah terbukti gagal memajukan Mamasa,” ungkap Agus bercerita.

Menurut Agus, anggaran pemerintah kabupaten Mamasa tidak jelas peruntukannya, hampir 12 tahun tidak ada pembangunan infrastruktur yang mendukung gerak perekonomian warga.

“Tak terlihat upaya pemda untuk mensejahtarahkan masyarakat. Mamasa sebenarnya bisa besar asal penggunaan anggaran dan program berjalan dengan baik, transparan dan akuntabilitas. Saya beberapa kali ke datang dan menyurati KPK dan Kejagung agar Pemkab Mamasa diaudit,” bebernya. (DBS)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan