Selamat Imlek 2026, John Palinggi akui Beberapa Falsafah Tiongkok Inspirasinya Sukses 45 Tahun Sebagai Pengusaha Tanpa Cacat

Jakarta, majalahspektrum.com – MEMAKNAI Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Tahun (Kongzili) dan Cal Go Meh 2026, Ketua Harian wadah Kerukunan Beragama Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr, John N Palinggi, MM, MBA mengaku memahami dan terinspirasi akan budaya Tiongkok. Beberapa falsafah Tiongkok bahkan membawanya sukses 45 tahun sebagai pengusaha tanpa cacat, tanpa hutang.

“Tidak usah saya sebutkan namanya, ada seorang mentor, suhu (guru) Tionghoa saya yang mengajarkan bagaimana etika dan prinsip dalam berbisnis,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Grha Mandiri, Menteng, Jakarta, Kamis (12/02/2026).

Menurut pengusaha nasional, Ketum DPP Assosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor (ARDIN) ini.

Sebagai motivasi (Fighting Spirit), lanjut John, Tidak ada masalah bisnis yang tidak dapat diselesaikan, dan bahwa Pemenang itu bukan tidak pernah kalah Tetapi tidak pernah Menyerah.

“Never Give Up, jiwa, prinsip Orang Tionghoa itu tidak berhenti berusaha, jadi pengusaha sebelum memperoleh keuntungan,” ujar John.

Menurut John, bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Baru Imlek adalah momentum berkumpulnya semua anggota keluarga ditengah kesibukan, Menciptakan keharmonisan dan kerukunan keluarga besar serta menghormati leluhur.

“Momentum perkuat keharmonisan dan kerukunan dalam keluarga, menghormati dan mengenang jasa-jasa leluhur, Berdoa dan harapan di tahun yang baru lebih baik dan sejahtera dari sebelumnya,” terang John.

Soal kerukunan, lanjut John, hal itu selaras dengan keinginan Presiden Ri, Jenderal (Purn.) Prabowo Subianto dan upanyanya melalui organisasi BISMA yang didirikanya bersama KH, DR, Nurcholis Madjid.

“Menciptakan kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga, Kerukunan antar masyarakat Indonesia dan Kerukunan antar bangsa,” ujar John.

Tentang BISMA, John menjelaskan bahwa organisasi ini adalah wadah kerukunan umat beragama yang bergerak dalam kegiatan kemanusiaan, sosial kemasyarakatan yang berisi para Tokoh lintas agama.

“Di BISMA tidak membahas tentang perbedaan akidah /teolog/doktrin atau ajaran Agama-agama tetapi dari antar umat beragama melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Bersama dalam kemanusiaan,” jelasnya.

John N Palinggi saat Mendirikan BISMA Bersama Nurcholis Madjid Tahun 2.000 (25 tahun yg lalu)

BISMA didirikan pasca masa krusial bagi orang Tionghoa Indonesia tahun 1998 (era Reformasi). Setelah Bisma berdiri, Presiden ke-4 Gus Dur, Membolehkan Imlek dirayakan dan mengakui Konghucu sebagai agama di Indonesia, yang srlamjutnya padaTahun 2003 oleh Presiden Megawati ditetapkan sebagai hari libur Nasional.

Tentang tahun baru Imlek, John Palinggi menjelaskan bahwa perayaan itu sudah ada sejak zaman Dinasti Shang Tahun 1600-1046 SM. Awalnya, perayaan ini berupa ritual keagamaan untuk menghormati dewa dan leluhur serta menandai musim panen. Tradisi ini kemudian berkembang pesat, dengan penetapan tanggal resmi pada masa Dinasti Han (202 SM–220 M).

“Sebagai upacara syukur atas hasil Panen tahun sebelumnya dan Memohon berkah hasil panen semakin baik di tahun berikutnya,” jelasnya.

Mengapa Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna Merah dan Lampion?, menurut John Palinggi hal itu dalam mitologi Tiongkok berakar dari legenda Monster Nian (berkepala Singa). Nian muncul setiap awal tahun dan kerap memangsa manusia dan ternak. Kemudian masyarakat di Tiongkok mencari tahu kelemahan si monster yang ternyata sangat takut dengan warna merah, sinar terang (lampu lampion) dan suara ledakan (mercon atau petasan).

“Itu sebabnya perayaan imlek kerap didominasi warna merah, hiasan lampu lampion dan mercon,” terang John.

John Palinggi bersama tokoh agama Konghucu

Perayaan Imlek, lanjut John, bagi orang Tiongkok adalah momen berkumpulnya keluarga besar guna menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam Keluarga.

“Selamat Tahun Kuda Api 2026. Zhu Nin Xinchun Kuaile (Selamat Tahun Baru Imlek), Gong Xi Fat Cai (Semoga selalu memperoleh Keberuntungan dan Keberkahan), Wanshii Ruyi (Semoga yang terjadi di tahun ini sesuai yang diinginkan) dan Shanti Jiankang (Semoga Selalu Sehat Walafiat),” ucap John kepada masyarakat Tionghoa. (ARP)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*