Di tengah debu dan reruntuhan yang ditinggalkan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2010, seorang remaja harus menyaksikan dunia yang ia kenal hancur dalam sekejap. Kehilangan ibu, sosok yang menjadi tulang punggung keluarga bukan sekadar duka biasa, melainkan sebuah gempa batin yang mengguncang fondasi harapan dan identitas dirinya.
Dalam kehampaan yang begitu dalam, ketika segala cita-cita tampak runtuh dan masa depan terasa mustahil, muncul sebuah pertanyaan yang tak terucap, apakah luka yang begitu dalam hanya akan meninggalkan kehancuran, ataukah justru mampu melahirkan kekuatan baru yang tak terduga?
Pertanyaan ini terjawab dalam kajian Post Traumatic Growth (PTG). Tedeschi dan Calhoun (1996) mengungkapkan bahwa trauma tidak selalu berakhir pada kehancuran psikologis. Namun sebaliknya, penderitaan yang mendalam dapat menjadi katalis bagi lahirnya perubahan positif. Ketika trauma berpadu dengan panggilan yang penuh pengabdian seperti pendidik atau guru, proses pertumbuhan seseorang menjadi semakin kompleks.
Guru dituntut untuk bertahan, dan juga terus memberikan harapan kepada generasi berikutnya, bahkan ketika jiwanya sendiri sedang terluka. Sayangnya, kajian yang secara mendalam mengeksplorasi dinamika antara pengalaman trauma personal, pertumbuhan pasca trauma, dan sense of calling dalam profesi guru masih sangat terbatas, terutama dalam pendidikan Indonesia.
Sebagian besar penelitian lebih banyak menyoroti dampak negatif trauma atau faktor eksternal resiliensi, sementara kajian tentang bagaimana luka batin diubah menjadi kekuatan spiritual dan profesional masih jarang diangkat.
Artikel ini ditulis untuk mengeksplorasi trauma personal, pertumbuhan pasca trauma, dan sense of calling dalam profesi guru. Metode penulisan menggunakan pendekatan kajian naratif, yang menggali bagaimana seorang guru mampu mentransformasi pengalaman hidup yang pahit menjadi sumber kekuatan dan komitmen dalam menjalankan panggilannya sebagai pendidik.
Post Traumatic Growth merupakan transformasi psikologis positif yang berkembang setelah seseorang berjuang menghadapi trauma dalam peristiwa hidup yang Sulit (Dell’osso et al., 2022).
Tentu saja, hal ini bukan berarti pengalaman traumatis adalah hal yang bermanfaat, dibutuhkan, atau tidak menyisakan luka. Namun sebaliknya, proses pendewasaan diri ini justru sering kali berjalan beriringan dengan rasa sedih, duka, cemas, dan stres pascatrauma.
Tedeschi dan Calhoun (1996) menjelaskan bahwa pertumbuhan pascatrauma bukanlah sekadar proses pemulihan untuk kembali seperti semula layaknya konsep resiliensi. Namun lebih dari itu, konsep ini merumuskan sebuah transformasi mendalam yang membawa seseorang tumbuh melampaui titik awalnya sebelum krisis terjadi.
Sebuah kisah di tengah debu tebal letusan Gunung Merapi tahun 2010, seorang remaja harus berjuang melewati reruntuhan kehidupannya. Ibu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga meninggal setelah menyelamatkan diri dari letusan Gunung Merapi. Ayah yang lebih sering absen secara emosional tidak mampu menahan kehancuran yang datang.
Dunia yang dikenalnya tiba-tiba runtuh. Semua cita-cita yang pernah diimpikan mendadak lenyap, digantikan oleh perasaan bahwa semua sudah berakhir.
Setelah ibu meninggal, remaja tersebut memutuskan pindah ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah untuk tinggal bersama nenek. Keputusan itu diambil agar beban ayah tidak semakin berat. Namun di kota baru itu, kemiskinan yang dialami semakin nyata. Sering kali ia harus menahan lapar karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
Ia juga kerap terlambat membayar uang sekolah, bahkan pernah tidak diperbolehkan mengikuti ujian karena tunggakan yang menumpuk. Di tengah kondisi yang begitu sulit, ia mulai bertanya dalam hati, apakah hidup ini masih layak dijalani.
Namun ditengah kepahitan hidup yang terjadi, perubahan mulai terjadi sejak remaja tersebut memasuki sebuah gereja. Keterlibatan aktif dalam pelayanan gereja dan program misi menjadi katalis utama proses kebangkitannya.
Ia bertemu dengan banyak anak yang juga memiliki masalahnya seperti yang ia alami, bahkan lebih berat lagi. Dari situlah muncul belas kasih atau compassion yang kemudian berkembang menjadi kekuatan personal baru. Pengalaman jamahan Tuhan yang mengubah hati menjadi momen kognitif penting, di mana rumination negatif bergeser ke arah pencarian makna panggilan hidup.
Melalui proses yang dialami remaja tersebut, ia memaknai kehidupannya dan memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan pendidikan.
Hal ini diartikan sebagai manifestasi awal dari sense of calling yang mulai terbentuk. Meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi selama menempuh pendidikan, tidak memiliki peralatan yang selayaknya dimiliki mahasiswa, ia berhasil menyelesaikan studinya dan menjadi seorang pendidik.
Proses tersebut sesuai dengan lima domain Post Traumatic Growth yang diidentifikasi Tedeschi dan Calhoun (1996), yakni peningkatan apresiasi terhadap kehidupan, hubungan interpersonal. (LKT-26-011)

Be the first to comment