Kunjungan Studi, Mahasiswa STT Jakarta Memahami Doktrin Gereja GYK OSZA

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – SEBANYAK 13 mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta melakukan kunjungan studi ke Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (GYK OSZA) guna memahami doktrin atau pengajaran gereja tersebut. Kedatangan mereka disambut baik oleh para misionaris dan pimpinan gereja GYK OSZA.

Guru Besar bidang Sejarah Gereja Indonesia yang mendampingi mereka, Prof. Jan Sihar Aritonang, Ph.D menjelaskan bahwa para mahasiswa yang datang tersebut adalah mereka yang mengambil mata kuliah pilihan Aliran-aliran Gereja.

“Intinya belajar langsung dari sumbernya, tidak belajar sendiri atau pihak ketiga. Tujuannya untuk memperkaya wawasan mereka, semakin terbuka, semakin menghargai, untuk tidak cepat-cepat menilai bidat men-cap sesat,” kata Jan saat jamuan makan bersama usai acara di gedung serbaguna gereja GYK OSZA Chapel Saharjo, jalan Dr, Saharjo, No.317B, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Menurut mantan Rektor STT Jakarta ini, tidak ada lagi relevansinya mengatakan suatu gereja sesat. “Kalau ada gereja yang mengatakan suatu gereja lain itu sesat, silahkanlah, tetapi sekolah jangan,” Jelasnya.

Ditegaskan Jan, STT Jakarta tidak didominasi suatu gereja tertentu dengan doktrin tertentu, tetapi sekolah untuk belajar.

“Kristen itu terlalu luas dan majemuk. Tiap gereja harus mempunyai doktrin. Masing-masing gereja selain harus mempertahankan doktrinnya, tetapi harus juga terbuka, menghargai doktrin gereja lain,” terangnya.

“Ketika gereja saya punya doktrin, bukan itu yang paling benar. Doktrin itu dirumuskan manusia. Yang dirumuskan manusia itu terbatas dalam banyak hal,” sambungnya.

Terkait mewujudnyatakan keesaan gereja, seperti misi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jan mengatakan hal itu harus diimplementasikan dengan tindakan nyata bukan sekedar kata-kata.

Baca Juga : ( Mewujudkan Keesaan Gereja di Indonesia Ditengah Warna-warni Doktrin )

Sementara itu, Direktur Dewan Urusan Kemasyarakatan Nasional Indonesia (INPAC) GYK OSZA, Agus Kusumarmanto mengatakan, mahasiswa dari STT Jakarta sudah sering mengunjungi gerejanya untuk studi guna menghindari adanya kesalahpahaman doktrin gereja.

“Ya banyak yang mereka Tanya, misalnya tentang Allah Tritunggal, pengakuan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, pengakuan terhadap gereja lain atau agama lain tentang keselamatan dan misionaris. Mereka Tanya juga apakah gereja kita menyetujui poligami, ternyata tidak. Kita juga meluruskan bahwa penyebutan untuk gereja kami bukan gereja Mormon tetapi Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir,” terang Agus.

Sepakat dengan Jan Aritonang, menurut Agus, kebersamaan gereja-gereja di Indonesia dapat dilakukan dalam hal kerjasama program kemanusiaan, sosial kemasyarakatan dan dalam kehidupan berbangsa dan Negara.

“Gereja bersatu dalam peranannya bagi bangsa dan Negara berdasarkan kasih dan cinta damai Kristus,” ujarnya.

Baca Juga: ( 5.000 Jam Pelayanan Sambut 50 Tahun GYK OSZA, Salah Satunya Donor Darah )

Salah satu mahasiswa STT Jakarta yang hadir dalam kunjungan itu, Philip Nainggolan mengaku awalnya sungkan bahkan takut datang ke GYK OSZA Sahardjo. Padahal, tempat tinggal mahasiswa semester 7 tersebut tidak jauh dari lokasi gereja.

“Ya karena dia (Philip) salah menilai kami (GYK OSZA). Dia pikir di sini ada bidat-bidat dan penyesatan. Setelah tahu dan paham tentang kami, dia tidak akan sungkan lagi dan berjanji sesekali akan datang ke sini untuk mengenal lebih jauh tentang kami,” tutur Agus. (ARP)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan