100 Tahun HKBP Kernolong di Jakarta Sebagai Gereja Sarat Sejarah

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – GEREJA Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kernolong, Ressort Jakarta, bisa dikatakan sebagai gereja yang sarat akan sejarah. Pasalnya, di gereja inilah sumber penyebaran orang batak, khususnya gereja HKBP di pulau Jawa, bahkan pulau lainnya di Indonesia di luar pulau Sumatera.

Selain sebagai pusat penyebaran para migrasi pemuda batak Kristen dan gereja HKBP, gereja HKBP Kernolong juga sarat sejarah para pemuda batak yang turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajahan Belanda di tanah Jawa, khususnya kota Batavia (Jakarta). Tercatat sejumlah tokoh nasional dari gereja ini diantaranya; Perdana Menteri pertama Indonesia (3 periode) Amir Syamsoedin Harahap, mantan Menteri Pendidikan era Orde Lama Sutan Gunung Mulia Harahar, Sastrawan Merari Siregar yang terkenal dengan bukunya “Azab dan Sengsara” dan mantan menteri Sosial orla Albert Mangaratua Tambunan (1966-1970).

Ketua panitia perayaan Jubelium 100 tahun HKBP Kernolong, yang juga majelis pengerja gereja di HKBP Kernolong, St. Hotman Nainggolan, SE, MBA mengatakan, di gereja HKBP Kernolong sebagai saksi sejarah peran aktif pemuda batak dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di gereja inilah lahir Djong Batak yang kemudian turut serta dalam deklarasi “Sumpah Pemuda”.

“Posisi strategis Gedung Gereja HKBP Kernolong yang sangat dekat dengan Pusat Pergerakan Pemuda (Indonesisch Clubgebouw)  yang juga dikenal sebagai asrama pelajar pada masa itu yakni Gedung Kramat Raya No. 106 yang menjadi tempat perumusan naskah Sumpah Pemuda. keberadaan Gereja HKBP Kernolong berperan dalam mendidik pemuda Kristen yang ikut andil dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia,” katanya di sela-sela perayaan jubelium 100 tahun HKBP Kernolong, jalan Keramat VI, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (22/9/2019).

Cerita Hotman tentang peran HKBP Kernolong, khususnya pemuda batak saat masa perjuangan kemerdekaan dibenarkan oleh sesepuh gereja tersebut, St, D.J.H Silitonga. Menurut dia, jaman perjuangan kemerdekaan dahulu, pemuda batak yang banyak bertempat tinggal di wilayah Kwitang, Keramat dan Tanah Tinggi kerap menghalau tentara Belanda dari markasnya di wilayah yang sekarang menjadi RSPAD Gatot Soebroto.

“RSPAD dahulu merupakan markas tentara Belanda Batalyon 10. Di seberang gereja ini ada kali yang dahulu sungai, jadi jika tentara Belanda ingin ke wilayah keramat-Kwitang-Tanah tinggi harus memutar tidak berani melewati sungai karena ditembaki oleh kita,” kata Silitonga yang kini berusia 85 tahun.

Dikisahkan, salah seorang pemuda Batak Kristen yang pertama datang merantau ke Jakarta sekitar tahun 1907 adalah Simon Hasibuan, seorang tamatan Seminari Pansurnapitu di Tapanuli.

Keberadaan orang Batak Kristen di Jakarta sejak tahun 1907 dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak. Menurut catatan  F. Harahap dan M. Nababan almarhum, yang sudah berada di Jakarta sejak tahun 1910-an, pada tahun 1917 sudah ada di Jakarta lebih kurang 30 orang Batak yang beragama Kristen yang Lima diantaranya sudah berkeluarga, sedangkan yang lainnya adalah pelajar di Ambach School (Sekolah Tehnik) di Kampung Jawa Kota dan Perawat di RS Salemba dan RS PGI Cikini yang sekarang. Sebagian besar dari mereka pada saat itu tinggal di sekitar Sawah Besar.

Migrasi para pemuda Batak dari Tapanuli ke Jakarta semakin banyak jumlahnya, apalagi setelah terbitnya sebuah pengumuman (boa-boa) yang dimuat sebagai pemberitahuan dalam “Surat Keliling Immanuel” yang dicetak di Laguboti. Pemberitahuan yang merupakan iklan itu berbunyi ajakan kepada pemuda batak yang ingin mencari pekerjaan atau melanjutkan studi untuk datang ke Batavia (Jakarta kala itu) dan disediakan tempat penampungan atau persinggahan sementara sebelum bisa mandiri.

Sesudah pengumuman yang tertera alamat tempat singgah/menetap sementara di Batavia (rumah F Harahap), terbit di “Surat Kuliling Immanuel” tersebut beredar maka semakin banyaklah berdatangan para pemuda Batak Kristen ke Jakarta yang mencapai dua atau tiga orang setiap bulan mereka berangkat dari Tanah Batak menuju Batavia.

Oleh karena Pemuda Kristen Batak jumlahnya masih sedikit dan kebaktian berbahasa Batak belum ada maka mereka menumpang beribadah/kebaktian di gereja gereja yang saat itu sudah ada di Jakarta, diantaranya di GKI Patekoan dan GKI Kwitang.

Pada tanggal 10 Oktober 1917 Pendeta GKI Patekoan, Pdt. Ds. L. Tiemersma bersama dengan Guru F. Harahap memprakarsai untuk menyewa tiga buah rumah, satu untuk ditempati Guru F. Harahap dan dua lagi untuk ditempati pemuda Batak lainnya. Sewa ketiga rumah tersebut ditanggung oleh Gereja Kwitang. Letak rumah yang disewa tersebut di perbatasan Sawah Besar dan Kebun Jeruk No.18.

Pada umumnya para pemuda ini cukup rajin datang ke gereja, karena disamping ingin menghadiri kebaktian, mereka juga ingin saling bertemu satu dengan yang lain.

Lama kelamaan jumlah orang Batak di Jakarta semakin banyak. Beberapa diantaranya ada yang dapat berbahasa Belanda dan Melayu (Indonesia), tetapi lebih banyak pemuda Batak tersebut  praktis hanya menguasai bahasa Batak. Oleh karenanya wajarlah kalau beberapa dari orang Batak sangat berkeinginan diadakan saja kebaktian berbahasa Batak agar mereka dapat memahami khotbah-khotbah yang disampaikan pada saat ibadah. Permintaan dan keinginan untuk melaksanakan Kebaktian berbahasa Batak inipun disampaikan kepada Ds.L. Tiemersma yang kemudian menyetujuinya.

Atas persetujuan dan dukungan  Ds.Tiemersma maka pada tanggal 20 September 1919 diadakanlah kebaktian/ibadah ber bahasa Batak yang pertama. Kebaktian ber-bahasa Batak ini dipimpin oleh Guru S. Hasibuan, F, Harahap dan Sutan Harahap.

Anggota jemaat sementara sudah mencapai 50 0rang. Dengan terlaksananya kebaktian/ibadah ber bahasa Batak yang pertama tgl 20 September 1919 maka  tanggal inilah yang oleh rapat panitia ulang tahun ke-89 dan majelis Parhado HKBP Kernolong ditetapkan menjadi hari lahirnya HKBP Kernolong Ressort Jakarta. (ARP)

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan