Politik dan Diskriminatif Kepala Daerah Jadikan Depok Sebagai Kota Paling Intoleran

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com -BERDASARKAN hasil riset Setara Institut pada Tahun 2021, Kota Depok, Jawa Barat, menjadi daerah paling intoleran di Indonesia, yang bahkan mengalahkan Aceh.

Terkait hal itu, seorang warga di jalan Program Dalam, RW.04, Pancoran Mas, Depok, Jerry Sihombing.S.T mengisahnya pengalaman hidupnya tinggal di kota Depok sekitar awal tahun 2000-an dimana saat itu kehidupan warga Depok sangat toleran.

Jerry Sihombing yang adalah seorang Kristiani pernah terlibat sebagai panitia pembangunan Mushola dan Masjid di wilayahnya. Tak hanya itu, ia bahkan mencari dana kesana-kemari untuk memenuhi anggaran pembangunan tersebut.

“Saya yang seorang Batak kristen satu-satu di lingkungan saya dipercaya menjadi panitia pembangunan Mushola dan Masjid untuk Sie Pembangunan dan Perencanaan, secara teknis juga turut bekerja sebagai pemasang instalasi. Nyari dana juga, Teman-teman kerja saya di UKI dan para alumni UKI saya todong untuk nyumbang,” kata mantan Kepala Pengadaan Rektorat UKI ini, Kamis (11/8/2022).

 

Terkait predikat Kota Depok sebagai daerah paling intoleran se-Indonesia dari hasil riset Setara Institut tersebut, menurut Jerry hal itu karena Politik dan Pemimpin Daerahnya.

“Merosotnya sikap toleran di kota Depok karena pengaruh kepentingan politik, memainkan isu agama dalam berpolitik. Selain itu Pemimpin daerah, Wali Kota Depok juga punya pengaruh dan lewat kebijakannya yang membuat nilai toleransi di Depok semakin memprihatinkan,” ungkapnya.

Jerry mengalami sendiri bagaimana politik identitas begitu massif di Depok. Pada Pemilu 2009, Jerry menjadi Caleg DPRD Tingkat II Kota Depok dari Partai PKPI. Saat masa kampanye, ada tetangganya yang menghasut tetangga lain agar tidak memilih Jerry karena dia seorang Kristiani. Akibat kampanye politik identitas tersebut, Jerry hanya memperoleh 30 suara di wilayahnya. Padahal, Jerry pernah menjadi Wakil Ketua RW di situ.

Jerry Sihombing, S.T dan Masjid Jami AL’ Amal, Pancoran Mas, Depok

“Haram katanya memilih pemimpin yang tidak seiman. Politik membuat orang jadi fanatik. Namun saya tak kecewa dan menjauh dari mereka, saat ini saya tetap dekat dengan mereka, kalau saat idul adha saya ikut potong hewan qurban,” cerita Jerry yang anggota jemaat dan pemimpin paduan suara kaum bapak di HKBP Depok I ini.

Karena sikap baik persaudaraan yang ditunjukan Jery di lingkunganya, hingga dipercaya menjadi panitia pembangunan Mushola dan Masjid, warga menunjuk Jerry sebagai Ketua RW, namun ditolaknya karena akan kesulitan dalam komunikasi nantinya bila bertemu warga, khususnya bila diundang pada acara-acara hajatan warga. Agar warga tidak terlalu kecewa, Jerry pun memilih menjadi Wakil Ketua RW saja.

“Selain kesibukan kerja saya di UKI, saya juga merasa canggung nantinya jika harus menghadiri undangan-undangan atau acara, misalnya Maulid Nabi, jadi lebih baik jadi wakil saja tetapi tidak mengurangi kepedulian dan hubungan baik saya dengan warga sekitar,” terang Yerry.

Ke depan Jerry berharap tidak ada lagi Politisi di Indonesia, khususnya di Kota Depok yang memakai Agama dalam politik. Pemimpin daerah juga harus berwawasan kebangsaan, adil dan tidak diskriminatif dalam kebijakannya.

“Cara berpolitik identitas tidak mendidik masyarakat. Pemimpin yang diskriminatif pun berbahaya karena sama saja dengan menanamkan nilai-nilai intoleran masyarakatnya, yang pada akhirnya dapat membuat masyarakat menjadi ego, tak harmonis, terpecah-belah dan merusak kehidupan interaksi sosial kemasyarakatan,” tandasnya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan