Dijuluki “Pandita Partangiang”, RBB Diyakini Jadi Ephorus Transformasi HKBP

Iklan Kominfo
IKLAN BPK PENABUR

Jakarta, majalahspektrum.com – DI kalangan warga jemaat, khususnya para Pendeta sinode gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, MA dikenal sebagai “Pandita Partangiang” (Pendeta Pendoa). Pasalnya, pendeta yang mirip Rasulnya orang Batak (I.L Nomensen) ini rajin berdoa dan selalu mengandalkan doa dalam segala persoalan yang dihadapinya, baik persoalan pribadi maupun persoalan saat sebagai pelayan di HKBP.

Lahir 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, RBB, begitu dia akrab disebut oleh para simpatisannya, diusung maju sebagai calon Ephorus untuk periode 2020-2025 di Sinode Godang (SG) HKBP yang berlangsung mulai hari ini, Rabu (9/12/2020) hingga Minggu (13/12/2020), di Seminarium HKBP, Sipaholon, Taput, Sumut.

Suami dari Srimiaty Rayani Simatupang, SSi, MHum ini diyakini oleh banyak utusan peserta sinode godang HKBP 2020 sebagai sosok yang tepat untuk menjadi Ephorus HKBP 2020-2025, yang bakal melakukan Transformasi (Angin Perubahan) di HKBP.

Banyaknya persoalan dan keributan di HKBP belakangan ini karena ada sistem tata kelola, kebijakan dan administrasi di HKBP yang tidak beres. Kekacauan soal mutasi tugas pendeta dan SK penempatan tugas pendeta HKBP adalah salah satu masalah yang menjadi sorotan.

Menurut utusan peserta sinode godang dari Distrik X Medan Aceh, Pdt Indra Ariantho Hutauruk, HKBP punya banyak SDM. Pengkhotbah, bukan hanya pendeta saja, banyak jemaat yang ahli dalam khotbah, namun saat ini butuh Ephorus yang memiliki Karakter Iman seperti yang ada pada Pdt, RBB.

Soal Spiritualitas, RBB menghidupi panggilan Tuhan atas dirinya sebagai pendeta.

“Sungguh hidup dipenuhi kepada pimpinan Roh Kudus dalam hidupnya, dimana hal ini terlihat dalam setiap perilaku dan perkataannya sehari-hari. Kukenal juga dari banyak mahasiswa,” kata Pdt, Indra Hutauruk yang saat ini melayani ini di HKBP Ressort Karya Pembangunan kepada majalahspektrum.com melalui pesan WhatsApp, Rabu (9/12/2020) sore.

RBB kata dia, memiliki akuntabilitasnya kepada Allah. Kekalahan di 2016 sangat siap tidak popular atau disukai oleh orang atau kelompok tertentu.

Dia (RBB) punya pengaruh kepada banyak orang. MMemilikijam doa pribadi dengan syafaat buat semua. MMengalamidan menunjukkan pertumbuhan spiritualnya dalam keseharian,” ungkap Indra.

Sementara soal Integritas, kata Indra, RBB kesehariannya penuh rendah hati dan tidak terkesan materialistis, tidak egois dalam bentuk memaksakan kehendak, dengan tetap berpegang pada prinsip etika dalam penatalayanan. RBB tidak berlebihan dalam bertindak dan berucap disertai perilaku (Amsal 10: 9) dan ucapannya jujur (Amsal 10: 10) yang baik.

“Dalammembahas dasar teologi tidak terkesan dangkal atau kompromistis, walaupun menghargai adanya free-will disertai penjelasan. Berkesan saat mengajar kuliah Pascasarjana,” jelasnya.

Dan soal Intelektualitas, lanjut Indra, RBB terus mengasah otak, dengan semua pengetahuan yang berkaitan dengan life balance (spiritual, mental, psikologi, kesehatan fisik, social). Belajar menjadi Life Coach, mengarahkan hidup yang seimbang dan menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Diketahui Pdt Robinson Butarbutar (RBB) memiliki 3 orang anak yaitu; Martin (mahasiswa Jurusan Mesin di UNDIP Semarang, lahir tahun 1998 di Singapura), Melanchthon Bonifacio (mahasiswa Jurusan IT di ITS Surabaya, lahir tahun 2002 di Philippina), dan Emely Katharina (siswi SD, lahir tahun 2012 di Jerman) .

Lulus Sarjana Teologi dari STT-HKBP Pematang SiantarTahun 1987, Master of Arts bidang Seni Penafsiran Alkitab (Hermeneutics) Tahun 1990 dari London Bible College, Inggris dan Doktor Teologi Tahun 1999 dari SEAGST di Trinity
Theological College, Singapura dengan tempat penelitian lanjut di Tyndale House, Cambridge, Inggris, RBB memulai pelayanannya sebagai pendeta HKBP sebagai Pendeta Praktek di HKBP Lumbanbaringin Sipoholon, dan Dosen Sekolah Pendeta HKBP Sipoholon, Tahun 1990-1992.

Sebelum ditahbiskan sebagai Pendeta HKBP pada, 9 Mei 1993: di HKBP Tangerang, Jawa Barat, RBB sempat menjadi Wakil Kepala Biro Oikumene HKBP (1992-1993), lalu menjadi Kepala Biro Oikumene HKBP (1993-1996).

Di pelayanan internasional, RBB merupakan Dosen Perjanjian Baru sebagai tenaga pertukaran Selatan-Selatan UEM di Fakultas Teologi Universitas Silliman di Philippina (2000-2002) lalu Pelaksana Staf Eksekutif UEM di Wuppertal untuk Asia, dan Sekretaris Eksekutif UEM untuk Asia (2002-2003)

Pada Tahun 2003- 2008, dia dipercaya memimpin beberapa program UEM di benua Asia (berkantor di Medan). Januari 2009-Juli 2013: Memimpin satu Departemen Program Internasional United Evangelical Mission berkantor di Jerman. Departemen ini bertanggung jawab melaksanakan dan mendukung program-program pelatihan untuk Pimpinan ke-34 Gereja/Anggota UEM di benua Afrika, Asia dan Jerman (Eropa) tentang Kepemimpinan Strategis Berdasarkan Visi, program beasiswa Pascasarjana, program perempuan dan Pemuda.

Kembali melayani di Indonesia, sejak September 2013 RBB adalah Staf Pengajar Studi Perjanjian Baru di STT-HKBP Pematang Siantar, 2014 – 2016: Ketua Komisi Teologi HKBP, Agustus 2015 – November 2016: Pelaksana Tugas Direktur Sekolah Pendeta HKBP di STT-HKBP dan sejak Februari 2015: Ketua Forum Teolog Batak bergelar S3.

Bukan cumin itu, sejak 2016 RBB ditunjuk sebagi Ketua Lembaga Penjamin Mutu STT-HKBP dan  Ketua Pusat Studi Biblika STT-HKBP, dia juga Ketua Ikatan Alumni STT-HKBP (IAS) untuk periode 2017 – 2021
dan saat ini sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP untuk periode 2017 – 2021.

Dalam salah satu artikel tulisannya, RBB melihat persoalan dan tantangan HKBP 25 ke depan harus dijawab secara sengaja, strategis dan dengan waktu yang memadai oleh HKBP dari tingkat jemaat sampai ke tingkat sinodal. Semua, secara khusus generasi muda, harus dilibatkan. Misalnya, setiap jemaat atau lembaga harus bertanya apa visi, misi dan recananya setelah mempertimbangkan kondisi luar dan dalam dirinya: (a) Apa ancaman dari luar – yang bisa membuat HKBP ‘mandul’ bahkan ‘mati’ atau menjadi ‘fosil’ di tahun 2036, (b) Apa peluang dari luar- yang membuat HKBP mampu menjalankan misi dan mencapai visinya, (c) Apa kelemahan internalnya – yang dapat menghambat HKBP mencapai visinya, dan (d) Apa kekuatan internalnya – yang mendukung HKBP mencapai visinya.

Setelah itu, resort, distrik dan sinode dapat memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mendukung pencapaian rencana setiap jemaat, termasuk misalnya di dalam persiapan ketenagaannya melalui pendidikan dan pelatihan berkesinambungan, penyediaan bahan-bahan bacaan bagi pembelajaran di HKBP, peningkatan peran warganya di dalam semua aras kegiatan maupun pengambilan keputusan, dan mobilisasi potensi 4,1 warga membantu jemaat lokal itu menjawab kebutuhan jangka pendek dan panjangnya? Jika ini tidak dilakukan, maka ke-am-an HKBP akan menjadi slogan semata.

RBB juga menyoroti tentang Penguatan organisasi, kelembagaan dan personalia di HKBP. Penguatan organisasi jemaat, resort, distrik, sinode dan lembaga-lembaga atau yayasan  perpanjangan tangan HKBP di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat) berbiaya ekonomis dan melibatkan kesukarelawanan warga di segala aras harus dilakukan secara teratur untuk dapat bekerja secara efektif, efisien, strategis, kreatif, innovatif, transparan, visioner, dan bersih dari kebocoran-kebocoran atau penyelewengan, dengan kesediaan mengadakan audit yang independen dan transparan.

Lanjut RBB, sistim organisasi yang lamban, struktur kepemimpinan pengemban tugas yang bebas dari pengawasan lembaga independen atau yang lebih tinggi harus dibaharui. Desentralisasi pelaksanaan kesaksian dan pelayanan masyarakat tidak berarti pelemahan lembaga-lembaga yang diurusi oleh sinode (seperti rumah sakit Balige, Pantai Asuhan Hepatha, Elim Siantar) sehingga kalah bersaing atau kemudian dirasa tidak dibutuhkan atau runtuh, tetapi harus dibarengi dengan penguatan oleh sinode dan warga yang piawai pada unit-unit kesaksian dan pelayanan sosial jemaat, resort dan distrik, misalnya dengan melakukan pelatihan-pelatihan di bidang kepemimpinan dan managemen yang teratur, atau dengan eksposure di dalam dan di luar negeri.

Penguatan organisasi, kata RBB, juga mencakup pemberian kesempatan bagi perempuan dan pemuda berperan termasuk di dalam pengambilan keputusan di bidang kebijakan dan pelaksanaan kebijakan. Juga harus dilakukan penguatan jejaring di antara warga berprofesi sama atau beda untuk saling mendukung, mengoreksi, dan bersolidaritas. Untuk ini pemanfaatan media internet, misalnya Facebook, harus dilakukan, tanpa mengesampingkan intensitas media temu wajah dan pendampingan nyata dengan dan sesama pengguna lewat forum yang ada dan baru diprakarsai.

Pengembangan dan penguatan personalia paroh maupun penuh waktu serta sukarelawannya (pengurus komisi, penatua, evangelis, guru jemaat, diakones, bibelvrow, pendeta) dan pemimpinnya harus direncanakan secara teratur dan berkesinambungan.

“Peningkatan iman, pengetahuan teologis, komitmen, keahlian, ketrampilan, spiritualitas, penyegaran-penyegaran, kesejahteraan mereka harus dimungkinkan, sehingga kelemahan yang ada di bidang spiritualitas dan keteladan rohani mereka dapat diatasi,“ katanya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan