Kata Pdt, Edy Wagino Soal Gereja Metaverse dan Ibadah Online

gbi shalom

Jakarta, majalahspektrum.com – PERKEMBANGAN teknologi sangat pesat di era digital saat ini. Baru saja kita menguasai dan menikmati digital online, kita sudah ditawarkan lagi digital visual atau akrab dikenal dengan Metaverse.

Pemerintah Arab Saudi bahkan berencana membuat ibadah Haji dengan metaverse, pun ibadah gereja mulai menjajaki dunia visual metaverse ini. Dampak dari wabah pandemic virus Corona (Covid-19) membuat peribadatan mulai masuk dunia metaverse tak terkecuali gereja. Saat ini di Indonesia bahkan sudah ada ibadah gereja metaverse.

Keberadaan Gereja metaverse (Metaverse Church) menjadi pro-kontra, ada yang setuju dan ada yang tidak. Yang tidak setuju bukan karena tidak mampu mengikuti atau menguasai teknologi digital visual metaverse tetapi ada alas an lain yang lebih mendasar, apa itu?.

Menanggapi Gereja Metaverse, Gembala Sidang GBI Sinona, Pdt, Edy Wagino, M.Th mengatakan, bahwa kita tidak dapat menolak kemajuan teknologi namun tidak semua kemajuan teknologi dapat digunakan untuk kebaikan dan kebenaran, baginya semua harus balik ke Alkitab.

“Kemajuan teknologi tidak dapat kita bendung, pun adanya gereja metaverse, namun kita harus Back To Bible. Alkitab bilang apa tentang persekutuan orang percaya (Eklesia = Gereja), satu ayat dalam Alkitab berkata: ‘Dua –Tiga orang berkumpul dalam namaKu, Aku ada di tengah mereka’ ini berarti ada perjumpaan secara pisik,” kata Pdt, Edy Wagino saat dijumpai di sebuah Mall kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (17/3/2022).

Selain itu menurut Pdt, Edy, gereja metaverse tidak mungkin dapat melakukan Tri Tugas Panggilan Gereja yakni; Diakonia, Koinonia dan Marturia.

“Terutama Diakonia. Kita tidak mungkin memberikan bantuan sembako kepada saudara kita yang butuh bantuan melalui dunia visual, itu harus pertemuan langsung,” jelasnya.

Pdt, Edy Wagino pun berpesan agar mereka yang penyedia dan penyuka metaverse tidak mempengaruhi orang lain yang tidak mengerti. “Kalau orang tidak mengerti lalu dipaksa menggunakan suatu teknologi khan namanya penyesatan. Jangan buat orang lain tersesat,” imbaunya.

Pengawasan ketat dari pemerintah tentang pembatasan orang-orang berkumpul, termasuk beribadah di gereja, guna meredam penyebaran virus Covid-19 dalam 2 tahun belakangan membuat banyak umat kristiani, khususnya anak-anak muda malas datang ke gereja untuk ibadah offline karena sudah terbiasa menikmati dan menyukai ibadah secara Online.

Selain takut tertular virus Covid-19, alas an lain jemaat lebih suka mengikuti ibadah gereja secara online karena dapat dilakukan dimana saja dan sambil melakukan aktivitas lain, tidak seperti ibadah offline yang harus bergerak ke, dan berada di suatu tempat tanpa dapat melakukan aktivitas lain.

“Jangan takut untuk datang beribadah ke gereja kalau pemerintah sudah ijinkan yang sudah barang tentu menerapkan Prokes yang ketat. Bagaimana pun beribadah secara offline itu lebih baik, kita bias menikmati persekutuan yang indah dengan saudara kita orang-orang percaya,” pesannya.

Baca Juga: (Pdt, Edy Wagino- Dari Penjara Kembali ke Penjara )

Untuk diketahui, sekarang ini, akibat wabah Corona ada gereja yang tutup karena sudah tidak ada lagi kjemaat yang datang. Kondisi itu membuat, khususnya gereja-gereja yang menyewa gedung, tak sanggup lagi menanggulangi pengeluaran rutin gereja karena hampir tidak ada pemasukan dari persembahan jemaat karena sudah menikmati ibadah online yang digelar banyak gereja, khususnya orang-orang usia muda.

Pdt, Edy Wagino (tengah baju hitam) saat Jamuan Kasih Dengan Pengurus DPP PERWAMKI (Perkumpulan Media Kristen Indonesia)

“Kita tidak mungkin memaksa atau minta-minta agar jemaat mau memberi persembahan kolekte ibadah atau persembahanucapan syukur via transfer rekening bank. Persembahan kepada Tuhan melalui gereja itu harus dengan kesadaran dengan ucapan syukur,” tutur Pdt, Edy Wagino.

Terkait mulai malasnya anak-anak muda datang ke gereja, GBI Sinona, kata Pdt Edy Wagino mempunyai strategi sendiri yakni memberikan kebebasan kepada mereka untuk berkreasi namun tetap dengan pengawasan.

“Saya biarkan apa maunya mereka yang penting datang dan pelayanan di gereja. Namun harus tetap kita awasi dengan ketat agar tidak tersesat menyimpang dari jalan dan maunya Tuhan. Pokoknya bagaimana caranya agar anak-anak muda merasa nyaman dan betah di gereja,” katanya. (ARP)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan