Miris, Sebuah Yayasan Hentikan Bantuan Pembangunan 7 Gereja Rintisan Pedesaan GPdI Gegara Laporan di Polda Metro

Jakarta, majalahspektrum.com – SEBUAH Yayasan yang selama ini memberikan bantuan pembangunan gedung gereja rintisan Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) di Pedesaan menghentikan bantuannya gegara adanya informasi publik tentang Laporan di Polda Metro Jaya.

Mirisnya, orang (Pelapor) yang membuat laporan itu adalah Pendeta dari internal sinode GPdI sendiri.

“Ini khan menjelekan gereja sendiri. padahal itu masalah yang bisa diselesaikan di internal organisasi yang sudah diatur dalam AD/ART GPdI,” kata Ketum Majelis Pusat (MP) GPdI saat ditemui di kantornya, Sentral GPdI, Danau Sunter, Jakut, Sabtu (31/5/2025).

Dipaparkan Pdt. Weol, bahwa di MP GPdI ada program bantuan pembangunan gedung gereja rintisan di pedesaan yang dijalankan oleh Bidang Pembangunan Gereja Pedesaan MP GPdI. Gereja rintisan itu adalah hasil penginjilan Hamba Tuhan lulusan Sekolah Alkitab dan STT GPdI. Bukan cuman bantuan bangun gereja, MP GPdI juga memberikan bantuan kesejahteraan ekonomi kepada keluarga dan diri Hamba Tuhan sang perintis gereja sidang jemaat baru itu.

“Untuk pembangunan permanen gedung gereja rintisan itu memang paling banyak dari Yayasan itu. sayangnya kini bantuan itu distop sampai ada kejelasan dari Laporan di Polda Metro tersebut,” ungkapnya.

Diketahui, saat ini ada 20.000 sidang jemaat GPdI di seluruh Indonesia dan manca Negara. Dalam 2 periode kepengurusan Pdt, Weol, ada 507 sidang jemaat GPdI baru. di Periode keduanya, dari Tahun 2023 hingga sekarang sudah ada 133 gedung gereja rintisan yang dibantu pembangunannya dan 7 gereja dipending karena bantuan dari yayasan distop.

“Memang bantuan dari Yayasan itu lebih besar ketimbang dari kas GPdI pusat. namun demikian bantuan MP GPdI ke gereja rintisan dan Gembala sidang tetap jalan semampunya,” ujar Pdt, Weol.

Dijelaskan Pdt, Weol. terkait bantuan dari Yayasan itu langsung ke kas Bidang Pembangunan Gereja Pedesaan bukan masuk ke kas MP GPdI.

“Bidang itu kita persilahkan pegang atau kelola kas sendiri dan mereka secara berkala membuat laporan ke MP dan Yayasan,” terang Pdt, Weol.

Senada dengan Ketum MP GPdI, Pdt, Weol, Bidang Pembangunan Gereja Pedesaan MP GPdI, Pdt, Stevanus Kavier melalui sambungan Telephone mengatakan, bahwa ada 133 gedung gereja rintisan yang sudah dibangun yang dapat bantuan dari Yayasan dan ada 7 gereja baru yang bantuan pembangunannya dipending (tunda) oleh Yayasan itu karena menunggu kejelasan adanya laporan ke Polda.

“Ada 140 gedung gereja baru yang dibantu Yayasan, 133 sudah selesai, selebihnya dipending oleh yayasan katena adanya informasi laporan di Polda. bulan ini atau bulan depan rencananya saya akan ke Jakarta urus masalah ini, menjelaskan ke Yayasan,” kata Pdt, Kavier via sambungan telephone, Sabtu (31/5/2025) petang.

Oleh karena itu, kata Pdt. Weol. pihaknya saat ini berharap dan berdoa agar masalah laporan di Polda segera selesai agar pembangunan gereja rintisan yang distop Yayasan itu dapat lanjut lagi.

“Harapannya Laporan dihentikan oleh Penyidik Polda (SP3). Karena khan sebenarnya ini masalah internal organisasi yang sudah diatur dalam AD/ART GPdI. pun sudah dijelaskan mengenai dugaan penggelapan dana itu yang jumlahnya cuma 64 juta dari 4 poin di laporan keuangan yang jelas dan masuk akal peruntukannya,” harap Pdt, Weol menjelaskan.

Baca Juga : ( 2 Pimpinan MP GPdI Penuhi Panggilan Polda Metro. Ini Duduk Persoalannya )

Diketahui, adanya laporan di Polda Metro Jaya berasal dari salahseorang Pendeta di lingkungan GPdI yang membuat laporan adamya dugaan penggelapan keuangan MP GPdI. Pendeta pelapor itu membuat laporan berdasarkan temuannya di Laporan Keuangan MP GPdI yang diterima.

“Ke depan saya berharap tidak ada lagi kegaduhan semacam ini. Ini khan menjatuhkan nama gereja sendiri. apalagi kalau tujuannya cuma prestise jabatan di GPdI,” ungkap Pdt, Weol.

Pdt, Weol menekankan bahwa di GPdI semuanya pelayanan, tidak ada gaji akibat jabatan di GPdI. Ia pun tidak ingin membalas, baginya lebih baik Tersakiti daripada Menyakiti.

“Kalau kita Tersakiti, kita bisa menangis dalam doa, tetapi kalau kita menyakiti, pikiran kita tidak tenang,” tutupnya. (ARP).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*