PENGHARGAAN BAGI TUHAN

“Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

(2 Korintus 3:5)

PENEMU telegraf, Samuel F.B. Morse, suatu ketika ditanyai oleh sahabatnya, “Profesor Morse, saat Anda melakukan percobaan di laboratorium Anda di universitas, pernahkah Anda mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukan selanjutnya?”.

“O, tentu, dan bukan hanya satu kali.”

–          “Pada saat-saat seperti itu, apa yang kemudian Anda lakukan?”

“Setiap kali saya tidak bisa melihat dengan jelas jalan yang harus saya tempuh, saya berdoa meminta Tuhan menyinarkan cahaya yang lebih terang.”

–          “Dan cahaya itu biasanya muncul?”

“Ya. Dan saya ingin memberi tahu Anda, ketika sanjungan dan penghargaan diberikan atas penemuan saya, saya merasa tidak patut untuk menerimanya. Saya dapat menemukan penggunaan listrik secara bermanfaat bukan karena saya lebih hebat dari orang lain. Hal itu semata-mata karena Tuhan, yang hendak memberkati manusia, harus menyatakannya kepada seseorang, dan Ia berkenan untuk menyatakannya kepada saya,” kata Morse.

Kebanyakan kita haus akan penghargaan orang atas pencapaian kita. Namun, orang-orang yang berjiwa besar seperti Morse justru memberikan teladan kerendahan hati yang sangat menyentuh.

Seperti Paulus, mereka mengakui dan mengucap syukur atas anugerah dan kekuatan Tuhan yang memampukan mereka melahirkan karya-karya yang memberkati umat manusia.

Saat kita mencetak suatu prestasi adalah kesempatan yang bagus untuk mengembangkan kerendahan hati. Apakah kita secara egois “menelan” pujian atas prestasi itu bagi diri sendiri? Atau, kita menggunakannya untuk memuliakan Tuhan?. (Red)

KITA DAPAT MENGGUNAKAN PENCAPAIAN HEBAT UNTUK MEMEGAHKAN DIRI ATAU UNTUK MEMULIAKAN TUHAN. Shaloom..

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan